BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Dunia teknik tidak dapat lepas dari
teknik pengelasan. Teknik las menjadi hal yang sangat penting dalam konstruksi
mesin. Lingkup penggunaan teknik pengelasan dalam kontruksi sangat luas,
meliputi perkapalan, jembatan, rangka baja, bejana tekan, pipa saluran dan
sebagainya. Di samping untuk pembuatan, proses las dapat juga digunakan untuk
reparasi misalnya untuk mengisi lubang-lubang pada coran, membuat lapisan las
pada perkakas, mempertebal bagian-bagian yang sudah aus dan macam-macam
reparasi lainnya.
Perkembangan teknologi
pengelasan logam memberikan kemudahan umat manusia dalam menjalankan
kehidupannya. Saat ini kemajuan ilmu pengetahuan di bidang elektronik melalui
penelitian yang melihat karakteristik atom, mempunyai kontribusi yang sangat
besar terhadap penemuan material baru dan sekaligus bagaimanakah
menyambungnya.
Jauh sebelumnya, penyambungan logam
dilakukan dengan memanasi dua buah logam dan menyatukannya secara bersama.
Logam yang menyatu tersebut dikenal dengan istilah fusion. Las listrik
merupakan salah satu yang menggunakan prinsip tersebut, (Ridwan,
2008).
Pengelasan bukan tujuan utama dari kontruksi, tetapi hanya merupakan
sarana untuk mencapai ekonomi pembuatan yang lebih baik. Oleh karena itu,
rancangan las dan cara pengelasan harus betul-betul diperhatikan sesuai dengan
sifat-sifat las dan kegunaannya dalam kontruksi.
Prosedur pengelasan kelihatannya sangat
sederhana, tetapi sebenarnya di dalamnya banyak masalah-masalah yang harus
diatasi dimana pemecahannya memerlukan bermacam-macam pengetahuan. Karena itu
di dalam pengelasan, pengetahuan harus turut serta mendampingi praktek, baik
dalam proses pengelasan maupun peralatan yang mendukung pengelasan itu sendiri.
Menurut Rendy Setio dkk dalam jurnalnya
menyatakan bahwa agar mendapatkan hasil pengelasan yang baik maka elektroda
yang digunakan harus disesuaikan dengan bahan yang akan dilas serta pemilihan
parameter-parameter pengelasan yang tepat juga akan meningkatkan kualitas dari
hasil pengelasan tersebut.
Berdasarkan uraian di atas mengenai
perlunya pengetahuan yang lebih dalam bidang pengelasan, maka dalam makalah ini
akan dijabarkan mengenai prinsip-prinsip pengelasan, baik dari segi yang mendasar
dari teknik pengelasan itu sendiri maupun peralatan-peralatan yang mendukung
dalam proses pengelasan tersebut.
B.
Batasan masalah
Berdasarkan
latar belakang di atas, penulis membatasi masalah
1.
Apakah yang dimaksud
dengan teknik pengelasan?
2.
Apa saja jenis-jenis
pengelasan dalam teknik pemesinan?
3.
Bagaimana teknik
pengelasan yang baik dan benar?
4.
Peralatan apa saja yang
mendukung dalam proses pengelasan?
C.
Tujuan
- Mahasiswa dapat mendeskripsikan teknik pengelasan.
- Mahasiswa dapat menjelaskan jenis-jenis pengelasan dalam teknik pemesisnan.
- Mahasiswa dapat memaparkan dan menerapkan teknik pengelasan yang baik dan benar.
- Mahasiswa dapat menjelaskan peralatan-peralatan yang mendukung dalam proses pengelasan.
D.
Manfaat
- Mengetahui deskripsi teknik pengelasan.
- Mengetahui jenis-jenis pengelasan dalam teknik pemesinan.
- Mengetahui teknik pengelasan yang baik dan benar.
- Mengetahui peralatan-peralatan yang mendukung proses pengelasan.
BAB II
LANDASAN TEORI
A.
Teknik mengelas
Las (Welding) adalah suatu cara
untuk menyambung logam dengan cara pemanasan. Syarat keberhasilan penyambungan
adalah jika benda padat tersebut dapat
mencair oleh panas, antara logam yang disambung tersebut terdapat kesesuain
sifat lasnya sehingga tidak melemahkan atau meninggalkan sambungan tersebut., (Sriwidharto,
1996:1)
Mengelas adalah cara meyambung logam
dengan menggunakan panas. Tenaga panas diperlukan untuk memanaskan bahan dasar
logam yang akan disambung dan kawat las sebagai bahan pengisi. Pada las cair
logam dan kawat las dipanaskan hingga keduanya mencair dan berpadu satu sama
lain, (Didikh Suryana, 1978:1).
Pengelasan adalah salah satu teknik
penyambungan logam dengan cara mencairkan sebagian logam induk dan logam
pengisi dengan atau tanpa tekanan dan dengan atau tanpa logam dengan penambah dan
menghasilkan sambungan yang kontinyu. Sedangkan Shield Metal Arc Welding (SMAW)
atau yang biasa disebut las busur listrik adalah suatu proses penyambungan
logam dengan menggunakan tenaga listrik sebagai sumber panas, (Didikh Suryana,
1978: 73).
B.
Las Listrik dan Gas
- Las Listirk/ Resistansi Listrik
Menurut
Asyari Daryus dalam jurnalnya menyatakan bahwa pengelasan ini mula-mula
dikembangkan oleh Elihu Thompson diakhir abad 19. Pada proses ini digunakan
arus listrik yang cukup besar yang dialirkan ke logam yang disambung sehingga
menimbulkan panas kemudian sambungan ditekan dan menyatu. Arus listrik yang
digunakan akan dirobah tegangannya menjadi 4 sampai 12 volt dengan menggunakan
transformator dengan kemampuan arus sesuai kebutuhan. Bila arsu mengalir didalam
logam, maka akan timbul panas ditempat dimana resistansi listriknya besar yaitu
pada batas permukaan kedua lembaran lkogam yang akan dilas. Besar arus daerah
sambungan berkisar antara 50 sampai 60 MVA/m2 dengan tenggang waktu sekitar
10 detik. Tekanan yang diberikan berkisar antara 30 sampai 55 MPa.
Ada tiga faktor yang perlu diperhatikan sesuai dengan rumus :
jumlah panas =A2Ω t, dimana A adalah arus pengelasan
(dalam Ampere), Ω tahanan listrik antara elektroda (ohm) dan t waktu.
Untuk memperoleh hasil lasan yang baik ketiga faktor tersebut perlu diperhatikan
dengan cermat dimana besarannya tergantung dari tebal, jenis bahan serta ukuran
serta jenis elektroda yang digunakan.
- Las Gas/Asetilen
Pengelasan dengan gas adalah proses
pengelasan dimana digunakan campuran gas sebagai sumber panas. Nyala gas yang
banyak digunakan adalah gas alam, asetilen dan hidrogen yang dicampur dengan
oksigen.
Pengelasan
dengan oksi – asetilin adalah proses pengelasan secara manual dengan pemanasan
permukaan logam yang akan dilas atau disambung sampai mencair oleh nyala
gasasetilin melalui pembakaran C2H2 dengan gas O2 dengan atau tanpa logam
pengisi. Proses penyambungan dapat dilakukan dengan tekanan (ditekan), sangat
tinggi sehingga dapatmencairkan logam.
Pengelasan dengan gas dilakukan dengan membakar bahan bakar gas yang dicampur dengan oksigen (O2) sehingga menimbulkan nyala api dengan suhu tinggi (3000o) yang mampu mencairkan logam induk dan logam pengisinya. Jenis bahan bakar gas yang digunakan asetilen, propan atau hidrogen, sehingga cara pengelasan ini dinamakan las oksi-asetilen atau dikenal dengan nama las karbit.
Pengelasan dengan gas dilakukan dengan membakar bahan bakar gas yang dicampur dengan oksigen (O2) sehingga menimbulkan nyala api dengan suhu tinggi (3000o) yang mampu mencairkan logam induk dan logam pengisinya. Jenis bahan bakar gas yang digunakan asetilen, propan atau hidrogen, sehingga cara pengelasan ini dinamakan las oksi-asetilen atau dikenal dengan nama las karbit.
- Elektroda
Elektroda
adalah logam pengisi yang berperan di dalam proses pengelasan. Elektroda juga ikut menentukan kekuatan dari
hasil pengelasan, karena itu jenis elektroda harus dipilih sesuai dengan jenis
material logam induk karena elektroda ini akan mencair dan menyatu dengan logam
induk. (Rendy Setio P dkk)
BAB
III
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Pengelasan
Pengelasan adalah suatu proses penyambungan logam menjadi satu
akibat panas dengan atau tanpa pengaruh tekanan atau dapat juga didefinisikan
sebagai ikatan metalurgi yang ditimbulkan oleh gaya tarik menarik antara atom.
Pengelasan
(welding) dapat pula berarti salah satu teknik penyambungan logam dengan
cara mencairkan sebagian logam induk dan logam pengisi dengan atau tanpa
tekanan dan dengan atau tanpa logarn tambahan dan menghasilkan sambungan yang
kontinu.
Dalam pengelasan ada beberapa jenis sambungan logam diantaranya
bisa dilihat pada gambar dibawah ini.
B.
Jenis-jenis Pengelasan dalam
Teknik Pemesinan
Penyolderan Dan Pematrian
Solder dan patri juga merupakan proses penyambungan logam dimana
digunakan logam penyambung lainnya dalam keadaan cair yang kemudian membeku.
Penyolderan
Penyolderan adalah proses penyambungan dua keping logam dengan
logam yang berbeda yang dituangkan dalam keadaan cair dengan suhu tidak
melebihi 430 oC diantara kedua keping tersebut. Paduan logam
penyambung/pengisi yang banyak digunakan adalah paduan timbal dan timah yang
mempunyai titik cair antara 180 - 370 oC. Komposisi 50% Pb dan 50% Sn
paling banyak digunakan untuk timah solder dimana paduan ini mempunyai titik
cair pada 220 oC.
Pematrian
Pada pematrian logam pengisi mempunyai titik cair diatas 430 oC akan
tetapi masih dibawah titik cair logam induk. Logam dan paduan patri yang banyak
digunakan adalah :
1.
Tembaga :
titik cair 1083 oC.
2.
Paduan tembaga
: kuningan dan perunggu yang mempunyai titik cair antara 870 oC -
1100 oC.
3.
Paduan
perak : yang mempunyai titik cair antara 630 oC - 845 oC.
4.
Paduan
Aluminium : yang mempunyai titik cair antara 570 oC - 640 oC.
Pengelasan
Tempa

Proses pengelasan tempa adalah pengelasan yang dilakukan dengan
cara memanaskan logam yang kemudian ditempa (tekan) sehingga terjadi
penyambungan. Pemanasan dilakukan di dalam dapur kokas atau pada dapur minyak
ataupun gas. Sebelum disambung, kedua ujung dibentuk terlebih dahulu,
sedemikian sehingga bila disambungkan keduanya akan bersambung ditengah-tengah
terlebih dahulu. Penempaan kemudian dilakukan mulai dari tengah menuju sisi,
dengan demikian oksida-oksida atau kotoran-kotoran lainnya tertekan ke luar.
Proses ini disebut scarfing. Jenis logam yang banyak digunakan dalam
pengelasan tempa adalah baja karbon rendah dan besi tempa karena memiliki
daerah suhu pengelasan yang besar.
Pengelasan
Dengan Gas
Pengelasan dengan gas adalah proses pengelasan dimana digunakan
campuran gas sebagai sumber panas. Nyala gas yang banyak digunakan adalah gas
alam, asetilen dan hidrogen yang dicampur dengan oksigen.
a. Nyala Oksiasetilen
Dalam proses ini digunakan campuran gas oksigen dengan gas
asetilen. Suhu nyalanya bisa mencapai 3500 oC. Pengelasan bisa dilakukan
dengan atau tanpa logam pengisi. Oksigen berasal dari proses hidrolisa atau
pencairan udara. Oksigen disimpan dalam silinder baja pada tekanan 14 MPa. Gas
asetilen (C2H2) dihasilkan oleh reaksi kalsium karbida dengan air dengan reaksi
sebagai berikut :
C2H2 + 2 H2O Ca(OH)2 +
C2H2
Kalsium air Kapur tohor gas karbida asetilen
Bentuk tabung oksigen
dan asetilen diperlihatkan pada gambar berikut :
![]() |
b. Pengelasan Oksihidrogen
Nyala pengelasan oksihidrogen mencapai 2000 oC, lebih
rendah dari oksigen-asetilen. Pengelasan ini digunakan pada pengelasan lembaran
tipis dan paduan dengan titik cair yang rendah.
c. Pengelasan Udara-Asetilen
Nyala dalam pengelasan ini mirip dengan pembakar Bunsen. Untuk
nyala dibutuhkan udara yang dihisap sesuai dengan kebutuhan. Suhu pengelasan
lebih rendah dari yang lainnya maka kegunaannya sangat terbatas yaitu hanya
untuk patri timah dan patri suhu rendah.
d. Pengelasan Gas Bertekanan
Sambungan yang akan dilas dipanaskan dengan nyala gas menggunakan
oksiasetilen hingga 1200 oC kemudian ditekankan. Ada dua cara
penyambungan yaitu sambungan tertutup dan sambungan terbuka.
Pada sambungan tertutup, kedua permukaan yang akan disambung
ditekan satu sama lainnya selama proses pemanasan. Nyala menggunakan nyala
ganda dengan pendinginan air. Selama proses pemanasan, nyala tersebut diayun
untuk mencegah panas berlebihan pada sambungan yang dilas. Ketila suhu yang
tepat sudah diperoleh, benda diberi tekanan. Untuk baja karbon tekanan
permulaan kurang dari 10 MPa dan tekanan upset antara 28 MPa.
e. Pemotongan Nyala Oksiasetilen
Pemotongan dengan nyala juga merupakan suatu proses produksi.
Nyala untuk pemotongan berbeda dengan nyala untuk pengelasan dimana disekitar
lobang utama yang dialiri oksigen terdapat lubang kecil untuk pemanasan mula.
Fungsi nyala pemanas mula adalah untuk pemanasan baja sebelum dipotong. Karena
bahan yang akan dipotong menjadi panas sehingga baja akan menjadi terbakar dan
mencair ketika dialiri oksigen. Gambar di bawah ini memperlihatkan skema mesin
pemotong nyala oksiasetilen.

Las
Resistansi Listrik
Berdasarkan
arus yang dikeluarkan pada ujung elektrode, mesin las dibedakan menjadi
beberapa macam:
1. Mesin Las Arus Bolak-Balik (Mesin
AC)
Arus listrik bolak-balik yang dihasilkan oleh pengbangkit
listrik PL atau generator AC, dapat digunakan sebagai sumber tenaga dalam
proses pengelasan.
2.
Mesin las Arus Searah Mesin (DC)
Arus listrik yang digunakan untuk
memperoleh nyala bususr listrik adalah arus searah. Arus searah ini berasal
dari mesin las yang berupa dynamo motor listrik searah, dynamo dapat digerakkan
oleh motor listrik, motor bensin, motor diesel, atau alat penggerak mula yang
lain.
Mesin arus
searah yang menggunakan motor listrik sebagai penggerak, mulanya memerlukan
rectifier yang bergungsi untuk mengubah arus bolak-balik menjadi arus searah.
Pengelasan resistansi listrik mula-mula dikembangkan oleh Elihu
Thompson diakhir abad 19. Pada proses ini digunakan arus listrik yang cukup
besar yang dialirkan ke logam yang disambung sehingga menimbulkan panas
kemudian sambungan ditekan dan menyatu. Arus listrik yang digunakan akan
dirobah tegangannya menjadi 4 sampai 12 volt dengan menggunakan transformator
dengan kemampuan arus sesuai kebutuhan. Bila arsu mengalir didalam logam, maka
akan timbul panas ditempat dimana resistansi listriknya besar yaitu pada batas
permukaan kedua lembaran lkogam yang akan dilas. Besar arus daerah sambungan berkisar
antara 50 sampai 60 MVA/m2 dengan tenggang waktu sekitar 10 detik.
Tekanan yang diberikan berkisar antara 30 sampai 55 MPa.
Ada tiga faktor yang perlu diperhatikan sesuai dengan rumus :
jumlah panas = A2Ω t, dimana A adalah arus pengelasan
(dalam Ampere), Ω tahanan listrik antara elektroda (ohm) dan t waktu.
Untuk memperoleh hasil lasan yang baik ketiga faktor tersebut perlu diperhatikan
dengan cermat dimana besarannya tergantung dari tebal, jenis bahan serta ukuran
serta jenis elektroda yang digunakan.
Proses
pengelasan resistansi listrik meliputi : las titik, las proyeksi, las kampuh,
las tumpul, las nyala dan las perkusi.
a.
Las Titik
Las titik adalah pengelasan memakai metode resistansi listrik
dimana pelat lembaran dijepit dengan dua elektroda. Ketika arus dialirkan maka
terjadi sambungan las pada posisi jepitan.
Siklus pengelasan titik dimulai ketika elektroda menekan pelat
dimana arus belum dialirkan. Waktu proses ini disebut waktu tekan. Setelah
itu arus dialirkan ke elektroda sehingga timbul panas pada pelat di posisi
elektroda sehingga terbentuk sambungan las. Waktu proses ini disebut waktu
las.

Diagram
alat las titik
Setelah itu arus dihentikan namun tekanan tetap ada dan proses ini
disebut waktu tenggang. Kemudian logam dibiarkan mendingin sampai
sambungan menjadi kuat dan tekanan di hilangkan dan pelat siap dipindahkan
untuk selanjutnya proses pengelasan dimulai lagi untuk titik yang baru.
Peralatan mesin las titik ada tiga jenis yaitu : 1) mesin las
titik tunggal stasioner, 2) mesin las titik tunggal yang dapat dipindahlan dan
3) mesin las titik ganda. Mesin las stasioner dapat dibagi lagi atas jenis :
lengan ayun dan jenis tekanan langsung. Jenis lengan ayun merupakan jenis yang
sederhana dan mempunyai kapasitas kecil.
Pengelasan ini mirip dengan pengelasan titik hanya bagian yang
dilas dibuat proyeksi/tonjolan terlebih dahulu. Ukuran tonjolan mempunyai
diameter yang sama dengan tebal pelat yang dilas dengan tinggi tonjolan lebih
kurang 60% dari tebal pelat. Hasil pengelasan biasanya mempunyai kualitas yang
lebih baik dari pengelasan titik.

Pengelasan
Proyeksi
c. Las kampuh
Las kampuh merupakan proses las untuk menghasilkan lasan yang
kontinyu pada pelat logam yang ditumpuk. Sambungan terjadi oleh panas yang
ditimbulkan oleh tahanan listrik. Arus mengalir melalui elektroda ke pelat sama
seperti pengelasan titik. Metode ini sebenarnya merupakan pengelasan titik yang
kontinyu. Tiga jenis las kampuh yang sering dilakukan pada industri bisa
dilihat pada gambar berikut. yaitu las kampuh tumpang,
las kampuh tindih dan las kampuh yang mulus.

Jenis-jenis
las kampuh resistansi listrik
d. Las Tumpul (Butt Weld)
Pengelasan las tumpul bisa dilihat pada gambar berikut. Dua batang
logam saling tekan dan arus mengalir melalui sambungan batang logam tersebut
dan menimbulkan panas. Panas yang terjadi tidak sampai mencairkan logam namun
menimbulkan sambungan las dimana sambungannya akan menghasilkan tonjolan.
Tonjolan bisa dihilangkan dengan pemesinan. Kedua logam yang disambung
sebaiknya mempunyai tahanan yang sama agar terjadi pemanasan yang rata pada
sambungan.

Sketsa pengelasan
tumpul
Las Busur
Pengelasan busur adalah pengelasan dengan memanfaatkan busur
listrik yang terjadi antara elektroda dengan benda kerja. Elektroda dipanaskan
sampai cair dan diendapkan pada logam yang akan disambung sehingga terbentuk
sambungan las. Mula-mula elektroda kontak/bersinggungan dengan logam yang dilas
sehingga terjadi aliran arus listrik, kemudian elektroda diangkat sedikit
sehingga timbullah busur. Panas pada busur bisa mencapai 5.500 oC.
Las busur bisa menggunakan arus searah maupun arus bolak-balik.
Mesin arus searah dapat mencapai kemampuan arus 1000 amper pada tegangan
terbuka antara 40 sampai 95 Volt. Pada waktu pengelasan tegangan menjadi 18
sampai 40 Volt. Ada 2 jenis polaritas yang digunakan yaitu polaritas langsung
dan polaritas terbalik. Pada polaritas langsung elektroda berhubungan dengan
terminal negatif sedangkan pada polaritas terbalik elektroda berhubungan dengan
terminal positif.
Jenis bahan elektroda yang banyak digunakan adalah elektroda jenis
logam walaupun ada juga jenis elektroda dari bahan karbon namun sudah jarang
digunakan. Elektroda berfungsi sebagai logam pengisi pada logam yang dilas
sehingga jenis bahan elektroda harus disesuaikan dengan jenis logam yang dilas.
Untuk las biasa mutu pengelasan antara arus
searah dengan arus bolak-balik tidak jauh berbeda, namun polaritas sangat
berpengaruh terhadap mutu lasan.
Kecepatan
pengelasan dan keserbagunaan mesin las arus bolak-balik dan arus searah hampir
sama, namun untuk pengelasan logam/pelat tebal, las arus bolak-balok lebih
cepat.
Skema
las busur bisa dilihat dibawah ini:

Skema nyala busur
Elektroda yang digunakan pada pengelasan jenis ini ada 3 macam
yaitu : elektroda polos, elektroda fluks dan elektroda berlapis
tebal. Elektroda polos adalah elektroda tanpa diberi lapisan dan penggunaan
elektroda jenis ini terbatas antara lain untuk besi tempa dan baja lunak.
Elektroda fluks adalah elektroda yang mempunyai lapisan tipis fluks, dimana
fluks ini berguna melarutkan dan mencegah terbentuknya oksida-oksida pada saat
pengelasan. Kawat las berlapis tebal paling banyak digunakan terutama pada
proses pengelasan komersil.
Lapisan pada elektroda berlapis tebal mempunyai fungsi :
1. Membentuk lingkungan pelindung.
2. Membentuk terak dengan sifat-sifat tertentu untuk melindungi
logam cair.
3. Memungkinkan pengelasan pada posisi diatas kepala dan tegak
lurus.
4. Menstabilisasi busur.
5. Menambah unsur logam paduan pada logam induk.
6. Memurnikan logam secara metalurgi.
7. Mengurangi cipratan logam pengisi.
8. Meningkatkan efisiensi pengendapan.
9. Menghilangkan oksida dan ketidakmurnia.
10. Mempengaruhi kedalaman penetrasi busur.
11. Mempengaruhi bentuk manik.
12. Memperlambat kecepatan pendinginan sambungan las.
13. Menambah logam las yang berasal dari serbuk logam dalam
lapisan pelindung.
Fungsi-fungsi yang
disebutkan diatas berlaku umum yang artinya belum tentu sebuah elektroda akan
mempunyai kesemua sifat tersebut.
Komposisi lapisan elektroda yang digunakan bisa berasal dari bahan
organik ataupun bahan anorganik ataupun campurannya.Unsur-unsur utama yang umum
digunakan adalah :
1. Unsur pembentuk terak : SiO2 , MnO2 , FeO dan Al2O3 .
2. Unsur yang meningkatkan sifat busur : Na2O, CaO, MgO dan TiO2 .
3. Unsur deoksidasi : grafit, aluminium dan serbuk kayu.
4. Bahan pengikat : natrium silikat, kalium silikat dan asbes.
5. Unsur paduan yang meningkatkan kekuatan sambungan las :
vanadium, sirkonium, sesium, kobal, molibden, aluminium, nikel, mangan dan
tungsten.
Berikut ini dijelaskan beberapa jenis pengelasan dengan
menggunakan pengelasan busur.
a. Pengelasan Busur Hidrogen Atomik.
Proses pengelasan ini adalah dimana dua elektroda tunsten
dialirkan busur arus bolak-balik dan hidrogen dialirkan ke busur tersebut.
Ketika hidrogen mengenai busur, molekulnnya pecah menjadi atom yang kemudian
bergabung kembali menjadi molekul hidrogen diluar busur. Reaksi ini diiringi
oleh pelepasan panas yang bisa mencapai suhu 6100 oC. Logam lasan dapat
ditambahkan dama bentuk batang/kawat las. Skema dari pengelasan jenis ini
diperlihatkan pada berikut:

Las busur
hidrogen atomic
b. Las Busur Gas dengan Pelindung Gas Mulia.
Proses pengelasan ini sambungan dibentuk oleh panas yang
ditimbulkan oleh busur yang dibangkitkan diantara elektroda dan benda kerja dimana
busur dilindungi oleh gas mulia seperti argon, helium atau bahkan gas CO2 atau campuran gas lainnya.
Ada dua jenis pengelasan dengan cara
ini yaitu : las TIG (tungsten inert gas) atau disebut juga pengelasan
menggunakan elektroda wolfram dengan logam pengisi, dan las MIG (metal inert
gas) atau disebut juga pengelasan menggunakan elektroda terumpan. Kedua jenis
pengelasan ini bisa dilakukan secara manual ataupun otomatik serta tidak
memerlukan fluks ataupun lapisan kawat las untuk melindungi sambungan.
Las busur yang menggunakan elektroda wolfram (elektroda tak
terumpan) dikenal pula dengan sebutan las busur wolfram gas. Skema dari
pengelasan jenis ini bisa dilihat pada gambar 15. Pada proses ini las
dilindungi oleh selubung gas mulia yang dialirkan melalui pemegang elektroda
yang didinginkan dengan air

Diagram
proses las busur wolfram gas mulia
Pengelasan ini bisa menggunakan arus bolak-baliok ataupun arus
searah, dimana pemilihan tergantung pada jenis logam yang dilas. Arus searah
polaritas langsung digunakan untuk pengelasan baja, besi cor, paduan tembaga
dan baja tahan karat, sedangkan polaritas terbalik jarang digunakan. Untuk arus
bolak-balik banyak digunakan untuk pengelasan aluminium, magnesium, besi cor
dan beberapa jenis logam lainnya. Proses ini banyak dilakukan untuk pengelasan
pelat tipis karena biayanya akan mahal jika digunakan untuk pengelasan pelat
tebal.
Pengelasan las gas mulia elektroda terumpan bisa dilihat pada
gambar berikut dimana antara benda kerja dan elektroda terumpan dilindungi
dengangas pelindung. Efisiensi pengelasan jenis ini lebih tinggi dan kecepatan
pengelasan jauh lebih baik. Pengelasan ini umumnya dilakukan secara otomatik.

Diagram
las busur gas mulia elektroda terumpan
Gas karbon dioksida sering digunakan sebagai gas pelindung untuk
pengelasan logam baja karbon dan baja paduan rendah.
c. Pengelasan Busur Rendam.
Proses pengelasan busur rendam adalah proses pengelasan busur
dimana logam cair dilindungi oleh fluks selama pengelasan. Gambar 17
memperlihatkan skema pengelasan busur rendam. Busur listrik yang digunakan
untuk mencairkan logam tertutup oleh serbuk fluks yang diberikan disepanjang
alur las dan proses pengelasan berlangsung didalam fluks tersebut.

Skema
pengelasan busur rendam
Pada saat pengelasan panas yang ditimbulkan busur tidak hanya
mencairkan logam namun juga akan mencairkan sebagian dari fluks dimana fluks
cair ini akan terapung diatas logam cair sehingga membentuk lapisan pelindung
membentuk terak yang mencegah percikan dan terjadinya oksidasi. Ketika logam
dan terak sudah dingin, terak bisa dibuang, serbuk fluks yang tidak terpakai
dapai digunakan kembali.
d. Pemotongan dengan Busur Plasma.
Pada pengelasan ini, gas dipanaskan oleh busur wolfram hingga suhu
sangat tinggi sehingga gas menjadi terion dan menjadi penghantar listrik. Gas
dalam kondisi ini disebut plasma. Peralatan didesain sedimikian sehingga
gas mengalir ke busur melalui lubang halus sehingga suhu plasma naik dan
konsentrasi energi panas pada logam pada area yang kecil akan menyebabkan logam
cepat menjadi cair. Ketika gas meninggalkan nosel, gas berkembang dengan cepat
dan membawa logam cair, sehingga proses pemotongan bisa berjalan dengan baik.
Gambar dibawah memperlihatkan skema pemotongan dengan busur plasma

Skema perbandingan dua
proses memotong dengan busur wolfram gas; A. Pemotongan dengan busur gas helium
(non constricted transfered arc). B. Pemotongan dengan plasma (transferred
arc).
Pengelasan
Lainnya
Selain metode pengelasan yang disebutkan diatas masih banyak lagi
metode-metode pengelasan yang dilakukan di industri. Ada metode pengelasan
listrik berkas elektron, las laser, las gesek, las termit, pengelasan dingin,
las ultrasonik, las ledakan dan sebagainya. Metode-metode pengelasan tersebut
tidak akan diuraikan disini, untuk itu jika ada pembaca yang berminat untuk
mengetahui lebih lanjut silahkan melihat buku-buku referensi dan literatur yang
membahas masalah tersebut.
Cacat-cacat
Lasan
Berbagai jenis cacat yang dijumpai pada lasan bisa dilihat pada
gambar berikut.




Cacat-cacat pada lasan
Jenis-jenis cacat yang biasanya dijumpai antara lain:
1. Retak (Cracks).
2. Voids.
3. Inklusi
4. Kurangnya fusi atau penetrasi (lack of fusion or penetration).
5. Bentuk yang tak sempurna (imperfect shape).
Retak
Jenis cacat ini dapat terjadi baik pada logam las (weld metal),
daerah pengaruh panas (HAZ) atau pada daerah logam dasar (parent metal).

Bagian-bagian dari
sambungan las.
Cacat retak dibagi atas:
a. Retak panas
b. Retak dingin.
Bentuk retakan dapat dibagi menjadi:
a. Retakan memanjang (longitudinal crack).
b. Retakan melintang (transverse crack).
Retak panas
umumnya terjadi pada suhu tinggi ketika proses pembekuan berlangsung. Retak
dingin umumnya terjadi dibawah suhu 2000 C setelah proses pembekuan. Bagian-bagian dari
sambungan las.
Cacat retak dibagi atas:
a. Retak panas
b. Retak dingin.
Bentuk retakan dapat dibagi menjadi:
a. Retakan memanjang (longitudinal crack).
b. Retakan melintang (transverse crack).
Retak panas umumnya terjadi pada suhu tinggi ketika proses
pembekuan berlangsung. Retak dingin umumnya terjadi dibawah suhu 2000 C
setelah proses pembekuan.
Voids (porositas)
Porositas merupakan cacat las berupa lubang-lubang halus atau
pori-pori yang biasanya terbentuk di dalam logam las akibat terperangkapnya gas
yang terjadi ketika proses pengelasan. Disamping itu, porositas dapat pula
terbentuk akibat kekurangan logam cair karena penyusutan ketika logam membeku.
Porositas seperti itu disebut: shrinkage porosity.
Jenis porositas dapat dibedakan menurut pori-pori yang terjadi
yaitu:
• Porositas terdistribusi merata.
• Porositas terlokalisasi.
• Porositas linier.
Inklusi
Cacat ini disebabkan oleh pengotor (inklusi) baik berupa produk
karena reaksi gas atau berupa unsur-unsur dari luar, seperti: terak, oksida,
logam wolfram atau lainnya. Cacat ini biasanya terjadi pada daerah bagian logam
las (weld metal).
Kurangnya Fusi atau
Penetrasi
Kurangnys Fusi
Cacat ini merupakan cacat akibat terjadinya ”discontinuity” yaitu
ada bagian yang tidak menyatu antara logam induk dengan logam pengisi.
Disamping itu cacat jenis ini dapat pula terjadi pada pengelasan berlapis
(multipass welding) yaitu terjadi antara lapisan las yang satu dan lapisan las
yang lainnya.
Kurangnya Penetrasi
Cacat jenis ini terjadi bila logam las tidak menembus mencapai
sampai ke dasar dari sambungan.
Bentuk Yang Tidak Sempurna
Jenis cacat ini memberikan geometri sambungan las yang tidak baik
(tidak sempurna) seperti: undercut, underfill, overlap, excessive
reinforcement dan lain-lain. Morfologi geometri dari cacat ini biasanya
bervariasi.
C.
Teknik
Pengelasan
Beberapa hal yang perlu diketahui
dalam teknik-teknik pengelasan, yaitu sebagai berikut :
1) Menentukan Besar Arus dan
Tegangan Listrik
Besar
arus dan tegangan listrik yang digunakan dalam pengelasan, yaitu sebagai
berikut :
a.
Diameter elektode,
b.
Tebal bahan
c.
Jenis elektrode
d.
Posisi pengelasan dan
e.
Polaritas
2) Menyalakan dan Mematikan
Elektode
Menyalakan elektrode dapat dilakukan
dengan cua cara, yaitu sentakan dan goresan.
Cara sentakan sebagai berikut :
a.
Pegang elektrode tegak lurus terhadap pelat kerja
b.
Ketukkan beberapa kali permukaan pelat kerja
c.
Tarik elektode segera setelah timbul busur listrik, untuk mencegah agar
elektrode tidak lengket ke pelat kerja.
Cara goresan sebagai berikut :
a. Pegang elektrode
sehingga membentuk sudut terhadap pelat kerja sebesar ± 600 atau 450.
b. Gerakan elektrode ke arah
pinggir pelat kerja sehingga menyinggungnya.
c. Tarik elektrode
sejarak garis tengah elektrode, segera setelah timbul busur nyala listrik untuk
mencegah agar elektrode tidak lengket ke pelat kerja.
Cara mematikan nyala busur harus
hati-hat karena mematikan busur berarti mengakhiri proses pengelasan yang
berada pada ujung rigi las. Ada dua cara yang sering digunakan untuk mematikan
nyala busur, seperti pada berikut ini.
a.
Dengan cara mengangkat sedikit, kemudian diturunkan sambil dilepas dengan
menganyunkan ke kiri atas.
b.
Dengan cara mengangkat elektrode, kemudian diturunkan dan diayunkan ke arah
luar.
3) Gerakan Elektode
Ada
tiga macam gerakan ayunan elektrode, seperti pada gambar berikut ini :
a. Bentuk Silang
Lengkung
b. Bentuk Angka Delapan
c. Bentuk Lingkaran
c. Posisi
pengelasan
Posisi pengelasan pada pengelasan
las listrik, antara lain sebagai berikut :
1.
Posisi pengelasan di bawah tangan
Pengelasan di bawah tangan adalah proses pengelasan
yang dilakukan di bawah tangan dan benda kerja terletak di atas bidang datar.
Sudut ujung pembakar(brander) terletak diantara 45° dan kawat las dimiringkan
dengan sudut antara 30° - 40° dengan benda kerja. Kedudukan ujung pembakar ke
sudut sambungan dengan jarak 2 – 3 mm agar terjadi panas maksimal pada
sambungan. Pada sambungan sudut luar, nyala diarahkan ke tengah sambungan dan
gerakannya adalah lurus.
2.
Posisi pengelasan mendatar ( horizontal )
Pada posisi ini benda kerja berdiri tegak sedangkan
pengelasan dilakukan dengan arah mendatar sehingga cairan las cenderung
mengalir ke bawah, untuk itu ayunan brander sebaiknya sekecil mungkin.
Kedudukan brander terhadap benda kerja menyudut 70° dan miring kira-kira 10° di
bawah garis mendatar, sedangkan kawat pengisi dimiringkan pada sudut 10° di
atas garis mendatar.
3.
Posisi pengelasan tegak ( vertical )
Pada pengelasan dengan posisi tegak, arah pengelasan
berlangsung ke atas atauke bawah. Kawat pengisi ditempatkan antara nyala api
dan tempat sambunganyang bersudut 45°-60° dan sudut brander sebesar 80°.
4.
Posisi pengelasan di atas kepala ( Overhead )
Pengelasan dengan posisi ini adalah yang paling sulit
dibandingkan dengan posisilainnya dimana benda kerja berada di atas kepala dan
pengelasan dilakukan daribawahnya. Pada pengelasan posisi ini sudut brander
dimiringkan 10° dari garisvertikal sedangkan kawat pengisi berada di
belakangnya bersudut 45°-60°.
D.
Peralatan
dalam proses pengelasan
Dalam hal ini penulis mengambil contoh peralatan pada Las Oksi -
Asetilin
1.
Silinder atau
Tabung Gas
Tabung gas berfungsi untuk menampung gas atau gas cair
dalam kondisi bertekanan. Umumnya tabung gas dibuat dari Baja, tetapi sekarang
ini sudah banyak tabung-tabung gas yang terbuat dari paduan Alumunium. Ukuran
tabung ini dibuat berbeda karena disesuaikan dengan kapasitas daya tampung gas
dan juga jenis gas yang ditampung. Untuk membedakan tabung gas apakah
didalamnya berisi gas Oksigen atau Asetilen dapat dilihat dari tinggi tabung
Oksigen yaitu 1,4 m dan tabung Asetiline 1 m serta terdapat kode warna yang ada
pada tabung itu.
2.
Katup Tabung
Katup tabung berfungsi pengatur keluarnya gas dari
dalam tabung maka digunakan katup. Katup ini ditempatkan tepat dibagian atas
dari tabung. Pada tabung gas Oksigen, katup biasanya dibuat dari material Kuningan,
sedangkan untuk tabung gas Asetilen, katup ini terbuat dari material Baja.
3.
Regulator
Regulator ini juga berfungsi untuk mempertahankan
besarnya tekanan kerja selama proses pengelasan atau pemotongan. Bahkan jika
tekanan dalam tabung menurun, tekanan kerja harus dipertahankan tetap oleh
regulator. Pada regulator terdapat bagian-bagian seperti saluran masuk, katup
pengaturan tekan kerja, katup pengaman, alat pengukuran tekanan tabung, alat
pengukuran tekanan kerja dan katup pengatur keluar gas menuju selang.
4.
Selang Karet
Gas Oksi-Asetilin
Selang Karet Gas Oksi-Asetilin Berfungsi untuk
mengalirkan gas yang keluar dari tabung menuju brander pembakaran. Untuk
memenuhi persyaratan keamanan, selang harus mampu menahan tekan kerja dan tidak
mudah bocor. Dalam pemakaiannya, selang dibedakan berdasarkan jenis gas yang
dialirkan. Untuk memudahkan bagimana membedakan selang Oksigen dan selang
Asetilen mak cukup memperhatikan kode warna pada selang.
5.
Brander atau
Torch ( Pembakar )
Gas yang dialirkan melalui selang selanjutnya
diteruskan oleh Brander atau Torch, tercampur didalamnya dan akhirnya pada
ujuang nosel terbentuk nyala api.
Brander atau Toch memiliki dua fungsi yaitu :
•Sebagai
pencampur gas oksigen dan gas asetilin.
•Sebagai
pembentuk nyala api diujung nosel.
6.
Pematik atau
Korek Api Las
Alat yang berfungsi untuk menyalakan api pada ujung
pembakaran waktu memulai mengelas.
7.
Kaca Mata
Las
Kaca mata
las berfungsi :
a.
Melindungi mata terhadap radiasi sinar ultraviolet dan inframerah,
b.
Melindungi mata terhadap sinar yang tajam dan menyilaukan, agar dapat melihat
benda kerja dengan baik,
c.
Melindungi mata terhadap bahaya percikan bunga api.
8.
Kawat atau
Bahan Tambah
Kawat atau
Bahan Tambah digunakan sebagai bahan pengisi benda kerja yang bercelah dan
menambah kekuatan dalam pengelasan.
BAB IV
PENUTUP
A.
Kesimpulan
1.
Pengelasan (welding)
diartikan sebagai salah satu teknik
penyambungan logam dengan cara mencairkan sebagian logam induk dan logam
pengisi dengan atau tanpa tekanan dan dengan atau tanpa logarn tambahan dan
menghasilkan sambungan yang kontinu.
2.
Jenis-jenis
pengelasan dapat dibedakan menjadi pengelasan tempa, pengelasan dengan gas dan
pengelasan dengan resistansi listrik/las listrik.
3. Cara-cara pengelasan yaitu menentukan besar arus dan tegangan
listrik, menyalakan dan mematikan elektoda, mengatur
gerakan
elektoda.
4. Peralatan – peralatan yang digunakan dalam teknik pengelasan terutama untuk las asitelin yaitu: Silinder
atau Tabung Gas, Katup Tabung, Regulator, Selang Karet Gas Oksi-Asetilin, Brander atau Torch ( Pembakar ), Pematik atau Korek Api Las, Kaca Mata Las, Kawat atau Bahan Tambah.
B. Saran
Bagi para pembaca setelah membaca makalah ini semoga
dapat berguna, karena suatu saat nanti kita akan mempraktekannya, sehingga kita
harus mempelajari selik-beluk dari pengelasan. Ketika kita mengaplikasikannya
akan meminimalisir kesalahan dalam pengelasan.
0 komentar:
Posting Komentar