BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Ilmu
kelistrikan tidak asing lagi untuk didengar maupun dipelajari, mulai dari
alat-alat elektronika hingga sistem instalasi sangat beragam bentuknya. Peralatan
elektronika yang komplek susunannya, akan kita ketemukan komponen-komponennyayang
cukup beragam, seperti tahanan, kondensator, transformator, dioda, transistor
dan komponen lainnya.
Setiap mahasiswa
yang yang mendapati ilmu elektronika dituntut untuk dapat mengenal, memahami,
mengukur serta dapat menghitung nilai dari komponen-komponen elektronika
tersebut sebelum merakitnya kedalam bentuk suatu rangkaian.
Komponen
elektronika terbilang cukup sulit untuk dipahami dan diaplikasikannya, oleh
karena itu para mahasiswa harus mendapatkan referensi-referensi yang terpercaya
dan mudah untuk dipahami.
Mahasiswa yang
tidak dapat mengukur dan menghitung nilai dari komponen elektronika maka akan menyebabkan
mahasiswa kesulitan dalam mengaplikasikan kesebuah rancangan elektronik, oleh karena itu mahasiswa akan menjadi tidak
paham dalam sebuah rangkaian listrik.
Berdasarkan
uraian diatas maka penulis tertarik untuk membuat makalah yang berisi
pembahasan tentang mengukur dan
menghitung nilai komponen elektronika.
B.
Rumusan
Masalah
Dari pemaparan latar belakang diatas maka dapat
dirumuskan beberapa rumusan masalah, diantaranya:
1.
Bagaimana
cara memahami jenis-jenis dan menghitung nilai Resistor?
2.
Bagaimana
cara memahami dan menghitung nilai Kondensator?
3.
Bagaimana
cara memahami dan menghitung nilai Dioda?
4.
Bagaimana
cara memahami dan menghitung nilai Induktor?
5.
Bagaimana
cara memahami dan menghitung nilai Transistor?
6.
Bagaimana
cara memahami dan menghitung IC?
C.
Batasan
Penulisan
Supaya
dalam pembahasan tidak menyimpang dari pokok perumusan masalah yang ada, maka
penulis membatasi permasalahan yang ada.
1.
Menjelaskan
seputar pengertian, jenis-jenis dan cara menghitung komponen elektronika yang
tersebut diatas.
D.
Tujuan
Penulisan
1.
Mengetahui
definisi dan jenis-jenis dari masing-masing komponen elektronika
2.
Mengetahui
cara menghitung masing-masing komponen elektronika
3.
Mengetahui
komponen sebenarnya dalam media gambar
E.
Metode
Penulisan
Dalam
penulisan dan penyusunan makalah ini yaitu menggunakan referensi dari
buku-buku, journal-journal ilmiah dan referensi-referensi yang terkait.
F.
Manfaat
Penulisan
Adapun
manfaat penulisan makalah ini adalah:
1.
Dapat
menambah pengetahuan dan wawasan pada ilmu komponen elektronika
2.
Dapat
dijadikan referensi atau rujukan dalam mempelajari ilmu elektronika
LANDASAN TEORI
A.
Teori Resistor dan Jenis-Jenisnya
1.
Pengertian Resistor
Resistor adalah komponen listrik
yang berfungsi sebagai penahan arus listrik atau membatasi arus yang mengalir.
Hambatan atau resistor merupakan kemampuan untuk menghambat arus listrik. Nilai
resistansi suatu penghantar dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu jenis
penghantar, panjang penghantar, luas penampang penghantar dan suhu/temperature.
Bentuk fisik resistor ada bermacam-macam, ada
yang berbentuk kotak dan ada pula yang berbentuk selinder. Besar kecilnya
resistor tergantung pada kemampuanya dalam menahan panas (daya) semakin besar
panas yang mampu diterima semakin besar pula bentuk resistornya. Biasanya
kemampuan dari resistor menerima dari arus listrik dinyatakan dalam watt.
Simbol resistor
pada suatu rangkaian elektronika pada umumnya dibagi menjadi dua jenis yaitu
simbol Amerika dan simbol Eropa, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar
berikut.
3
|
2.
Fungsi Resistor
Fungsi resistor
dapat diumpamakan dengan sekeping papan yang dipergunakan untuk menahan aliran
air yang deras di selokan/parit kecil. Makin besar nilai tahanan, makin kecil
arus dan tegangan listrik yang melaluinya. Adapun fungsi lain resistor dalam
rangkaian elektronika, yaitu:
a.
Menahan arus
listrik agar sesuai dengan kebutuhan suatu rangkaian elektronika
b.
Menurunkan tegangan sesuai dengan yang
dibutuhkan oleh rangkaian elektronika
c.
Membagi
tegangan
d.
Sebagai pembagi
arus, dll.
3.
Bahan dan
Karakteristik Resistor
Resistor
memiliki nilai resistansi yang disesuaikan dengan bahan dasar untuk mernbuat
Resistor tersebut. Pada mulanya resistor dibuat dari bahan karbon dengan alasan
karbon memiliki resistivitas yang tinggi. Bahan karbon tersebut dililit dengan
kawat, kemudian diberi kode warna atau nilai tertentu sesuai dengan ukurannya
(lihat gambar). Kemudian sesuai dengan perkembangan teknologi telah ditemukan
bahan‑bahan lain sebagai bahan dasar pembuatan resistor.
Bahan‑bahan tersebut di antaranya
adalah:
-
Film
Karbon
-
Film
Metal
-
Film
Cermet.
4.
Karakteristik Berbagai Macam Resistor
Karakteristik berbagai macam
resistor dipengaruhi oleh bahan yang digunakan. Resistansi resistor komposisi
tidak stabil disebabkan pengaruh suhu, jika suhu naik maka resistansi turun.
Kurang sesuai apabila digunakan dalam rangkaian elektronika tegangan tinggi dan
arus besar. Resistansi sebuah resistor komposisi berbeda antara kenyataan dari
resistansi nominalnya. Jika perbedaan nilai sampai 10 % tentu kurang baik pada
rangkaian yang memerlukan ketepatan tinggi. Resistor variabel resistansinya
berubah-ubah sesuai dengan perubahan dari pengaturannya. Resistor variabel
dengan pengatur mekanik, pengaturan oleh cahaya, pengaturan oleh temperatur
suhu atau pengaturan lainnya. Jika perubahan nilai, resistansi potensiometer
sebanding dengan kedudukan kontak gesernya maka potensiometer semacam ini
disebut potensiometer linier. Tetapi jika perubahan nilai resistansinya tidak
sebanding dengan kedudukan kontak gesernya disebut potensio logaritmis.
Secara teori sebuah resistor
dinyatakan memiliki resistansi murni akan tetapi pada prakteknya sebuah
resistor mempunyai sifat tambahan yaitu sifat induktif dan kapasitif. Pada
dasarnya bernilai rendah resistor cenderung mempunyai sifat induktif dan
resistor bernilai tinggi resistor tersebut mempunyai sifat tambahan kapasitif.
Suhu memiliki pengaruh yang cukup berarti terhadap suatu hambatan. Didalam
penghantar ada elektron bebas yang jumlahnya sangat besar sekali, dan sembarang
energi panas yang dikenakan padanya akan memiliki dampak yang sedikit pada
jumlah total pembawa bebas. Kenyataannya energi panas hanya akan meningkatkan
intensitas gerakan acak dari partikel yang berada dalam bahan yang membuatnya
semakin sulit bagi aliran elektron secara umum pada sembarang satu arah yang
ditentukan. Hasilnya adalah untuk penghantar yang bagus, peningkatan suhu akan
menghasilkan peningkatan harga tahanan. Akibatnya, penghantar memiliki
koefisien suhu positif.
5.
Macam-macam
Resistor
Jenis resistor terbagi atas berbagai macam jenisnya. Nama dan jenis
Resistor tersebut disesuaikan dengan nama bahan dasar yang dipakai membuat
Resistor tersebut seperti: Resistor Kawat, Resistor Karbon, Resistor Film dan
lain‑lain. Jadi jenis atau macam-macam resistor berdasarkan kelasnya dibagi
menjadi 2 yang mana pada umumnya terbuat dari bahan carbon film atau metal
film, tetapi tidak menutup kemungkinan untuk dibuat dari material yang lainnya
adalah sebagai berikut:
a.
Resistor tetap (fixed resistor)
Resistor tetap
merupakan resistor yang mempunyai nilai tetap atau tidak berubah-ubah. Resistor
tetap memiliki ciri – ciri yaitu nilai resistansinya tidak dapat diubah – ubah
karena pabrik pembuatnya telah menentukan nilai tetap dari resistor tersebut.
1.
Resistor Kawat
Resistor Kawat ini adalah jenis
Resistor pertama yang lahir pada generasi pertama pada waktu rangkaian
elektronika masih menggunakan Tabung Hampa (VacuumTube). Bentuknya
bervariasi dan pada umumnya memiliki ukuran dan bentuk fisik agak besar. Resistor
Kawat ini biasanya banyak dipergunakan dalam rangkaian daya karena memiliki ke
tahanan yang tinggi yaitu disipasi terhadap panas yang tinggi. jenis lainnya
yang masih dipakai sampai sekarang adalah jenis Resistor dengan lilitan kawat
yang dililitkan pada barang keramik kemudian dilapisi dengan bahan semen.
Kemampuan dayanya tersedia dalam ukuran 1 Watt, 2 Watt, 5 Watt dan 10 Watt.
Gambar.
Resistor Kawat
2.
Resistor Batang Karbon (Arang)
Resistor ini
dibuat dari bahan karbon kasar yang diberi lilitan kawat yang kemudian diberi
tanda dengan kode warna berbentuk gelang dan untuk pembacaannya. Dapat di lihat
padaTabel Kode Warna.
3.
Resistor Keramik atau Porselin
Resistor
keramik kebanyakan dilapisi dengan lapisan kaca tipis dipermukaannya, jenis Resistor
ini banyak dipergunakan dalam rangkaian‑rangkaian modern seperti sekarang ini
karena bentuk fisiknya kecil dan memiliki ketahanan yang tinggi. Di pasaran
kita akan menjumpai Resistor jenis ini dengan ukuran bervariasi mulai dari
1/4Watt, 1/3 Watt, 1/2Watt, 1 Watt dan 2 Watt.
Gambar.
Resistor Kramik atau Porselin
4.
Resistor Film Karbon
Sejalan dengan perkembangan teknologi para produsen komponen elektronika
telah memunculkan jenis Resistor yang dibuat dari bahan karbon dan dilapisi
dengan bahan film yang berfungsi sebagai pelindung terhadap pengaruh luar.
Nilai resistansinya dicantumkan dalam bentuk kode warna seperti pada Resistor
Karbon.
Gambar.
Resistor Film Karbon
5.
Resistor Film Metal
Resistor Film Metal dibuat dengan bentuk hampir menyerupai Resistor Film
Karbon, memiliki stabilitas yang tinggi dan tahan terhadap perubahan
temperatur. Selain sifat‑sifat seperti di atas Resistor Film Metal memiliki
toleransi yang rendah. Resistor Film Metal banyak dipergunakan dalam rangkaian‑rangkaian
yang menuntut ketelitian yang tinggi seperti peralatan ukur atau peralatan yang
menggunakan teknologi tinggi.
6.
Resistor Tipe Film Tebal
Resistor jenis ini bentuknya mirip dengan Resistor Film Metal, namun
Resistor ini dirancang khusus agar memiliki kehandalan yang tinggi. Sebagai
contoh sebuah Resistor Film Tebal dengan ratingdaya 2 Watt saja
sudah mampu untuk dipakai menahan beban tegangan di atas satuan Kilo Volt.
b.
Resistor Variabel (Resistor Tidak Tetap)
Resistor Tidak Tetap adalah Resistor yang nilai resistansinya(tahanannya)
dapat dirubah‑rubah sesuai dengankeperluan dan perubahannya dapat dilakukan
dengan jalan menggeser atau memutar pengaturnya dan beberapa jenis lainnya
dapat berubah sesuai dengan sifat dari jenis bahan pembuatnya.
Maksud dan tuiuan dari nemasangan Resistor Tidak Tetap dalam suatu
rangkaian adalah dengan tujuan:
1.
Untuk mengatur
besar kecilnya arus dan tegangan dalam suatu rangkaian
2.
Sebagai pembagi
tegangan
3.
Sebagai pembagi
arus
Dalam
prakteknya kita mengenal bermacam‑macam Resistor Tidak Tetap di antaranya:
1. Potensiometer
Potensiometer merupakan komponen pembagi tegangan yang dapat disetel sesuai
dengan keinginan. Bentuk fisik dari Potensiometer pada umumnya besar dan dibuat
dari bahan kawat atau arang (karbon).
Potensiometer yang dibuat dari kawat adalah jenis Potensiometer lama yang
lahir pada generasi pertama pada waktu rangkaian elektronika masih menggunakan
Tabung Hampa (Vacuum Tube). Potensiometer jenis ini pada umumnya
memiliki keandalan yang tinggi. Namun demikian potensiometer seperti ini sudah
jarang dipergunakan lagi karena fisiknya yang besar akan memakan tempat yang
luas. Potensiometer yang terbuat dari kawat ini perubahan nilai tahanannya
adalah bersifat linier dan biasanya diberi tanda dengan huruf B, sedangkan
untuk Potensiometer yang terbuat dari bahan karbon perubahan nilai tahanannya
bersifat logaritmis dan diberi tanda huruf A. Yang dimaksud dengan
Potensiometer Linier adalah potensiometer yang perubahan nilai tahanannya
sebanding dengan putaran pengaturnya sedangkan Potensiometer Logaritmis
perubahan nilai tahanannya berdasarkan pcrhitungan logaritma. Bentuk fisik dari
potensiometer adalah seperti pada gambar di bawah ini:
Gambar Potensio
meter
Sesuai dengan pemakaiannya Potensiometer terbagi menjadi:
- Potensiometer yang tidak dilengkapi dengan
saklar, potensiometer jenis ini pada
umumnya memiliki nilai tahanan 50 Kilo Ohm, 100 Kilo Ohm dan banyak
dipergunakan sebagai pengatur volume, nada tinggi (treble) dan nada
rendah (bass)
-Potensiometer yang dilengkapi saklar, potensiometer jenis ini
penggunaannya selain dipakai sebagai pengatur volume juga berfungsi sebagai
saklar (Saklar ON‑OFF) pada pesawat Radio Transistor
- Potensiometer Ganda (bertingkat), potensiometer ini terdiri dari 2
buah potensiometer yang dihubungkan menjadi satu dalam satu poros dan biasanya
dipergunakan dalarn rangkaian‑rangkaian Stereo
Bentuk fisiknya seperti Pada Gambar berikut ini:
Gambar.
Potensiometer Ganda
2. Potensiometer Geser
Potensiometer geser juga termasuk sebagai potensiometer pengatur tegangan.
Dalam operasinya, untuk mendapatkan nilai tahanan tertentu dapat dilakukan
dengan cara menggeser tangkai pemegangnya seperti pada gambar disamping kiri.
Gambar.
Potensiometer Geser
3. Trimpot
Trimpot adalah kependekan dari Tripotensiometer, bentuk nya kecil dan
nilai tahanannya dapat dirubah‑rubah dengan cara memutar lubang coakan dengan
menggunakan obeng kecil. Seperti halnya dengan Potensiometer, Trimpot juga
diberi tanda huruf A atau huruf B pada bagian badannya untuk mengetahui jenis
linier atau logaritmis. Trimpot sebagai bahan resistifnya dibuat dari bahan
karbon atau arang.
4. Potensiotneter Preset
Potensiometer Preset bentuknya sangat kecil dan pengaturannya sama dengan
Trimpot yaitu dengan menggunakan obeng, yang diputar pada bagian lubang coakan.
Potensio meter Preset biasanya dipergunakan untuk penyetelan penyetelan yang
bersifat sementara dalam suatu rangkaian.
5.
NTC dan PTC
NTC adalah singkatan dari Negative Temperature Coefficient sedangkan PTC
adalah singkatan dari Positive Temperature Coefficient. Sifat dari komponen NTC
adalah Resistor yang nilai tahanannya akan menurun apabila temperatur
sekelilingnya naik dan sebaliknya komponen PTC adalah Resistor yang nilai
tahanannya akan bertambah besar apabila temperaturnya turun. Komponen NTC clan
PTC biasanya dipergunakan sebagai sensor dalam peralatan pengukur panas atau
juga disebut thermistor. Bentuk fisiknya seperti pada gambar.
6.
LDR (Light Dependent Resistor)
LDR adalah singkatan dari Light Dependent Resistor yaitu Resistor
yang tergantung cahaya, artinya nilai tahanannya akan berubah‑rubah apabila
terkena cahaya dan perubahannya tergantung dari intensitas cahaya yang
diterimanya.
LDR dibuat dari bahan sejenis semikonduktor. Komponen ini biasanya banyak
dipergunakan sebagai sensor dalam rangkaian‑rangkaian tertentu seperti
Rangkaian Lampu Taman atau Alarm. Bentuk fisiknya adalah seperti pada gambar di
bawah ini:
7.
VDR (Voltage Dependent Resistor)
VDR adalah singkatan dari VoltageDependent Resistoryaitu
Resistor yang nilai tahanannya akan berubah tergantung dari tegangan yang
diterimanya. Sifat dari VDR adalah semakin besar tegangan yang diterimanya maka
tahanannya akan semakin mengecil sehingga arus yang melalui VDR akan bertambah
besar.
Dengan adanya sifat tersebut, maka VDR sangat baik dipergunakan sebagai
alat stabilizer bagi komponen Transistor. Bentuk fisiknya adalah
seperti pada gambar.
Beberapa cara
untuk menghitung nilai hambatan sebuah resistor adalah sebagai berikut:
1
Memanfaatkan
tabel kode warna resistor
2
Menggunakan
multimeter secara analog dan digital
3
Menggunakan software
Resistor Color Coder maupun Color Coder (ColCod)
4
Menggunakan
Simulasi.
B.
Teori Kondensator dan Jenis-Jenisnya
1.
Pengertian
Kondensator atau sering disebut sebagai kapasitor adalah suatu alat yang dapat
menyimpanenergi didalam medan listrik, dengan cara mengumpulkan ketidakseimbangan internal dari muatan listrik. Kondensator memiliki satuan yang disebut Farad dari nama Michael Faraday. Kondensator juga dikenal sebagai
"kapasitor", namun kata "kondensator" masih dipakai hingga
saat ini. Pertama disebut oleh Alessandro Volta seorang ilmuwan Italia pada tahun 1782 (dari bahasa
Itali condensatore), berkenaan dengan kemampuan alat untuk menyimpan
suatu muatan listrik yang tinggi dibanding komponen lainnya. Kebanyakan bahasa
dan negara yang tidak menggunakan bahasa Inggris masih mengacu pada perkataan bahasa Italia "condensatore", bahasa Peranciscondensateur, Indonesia dan JermanKondensator atau SpanyolCondensador.
Kondensator atau kapasitor adalah
dua sebutan untuk benda yang sama walaupun ada perbedaan penyebutan
istilah ini dalam praktek sehari-hari. Kondensator yang bernilai diatas 1 µF
(mikro farad) dan memiliki polaritas (+) positif dan (-) negatif, sering
disebut sebagai Elco (Electrolit condensator), sedangkan
kondensator yang bernilai dibawah 1 µF sering disebut Kapasitor saja
Kondensator
diidentikkan mempunyai dua kaki dan dua kutub yaitu positif dan negatif serta memiliki cairan elektrolit dan biasanya berbentuk tabung.
Sedangkan jenis yang satunya lagi kebanyakan nilai
kapasitasnya lebih rendah, tidak mempunyai kutub positif atau negatif pada
kakinya, kebanyakan berbentuk bulat pipih berwarna coklat, merah, hijau dan
lainnya seperti tablet atau kancing baju.
Satuan dari kapasitansi kondensator adalah Farad (F). Adapun cara
memperbesar kapasitansi kapasitor atau kondensator dengan jalan:
a.
Menyusunnya berlapis-lapis
b.
Memperluas
permukaan variabel
c.
Memakai bahan
dengan daya tembus besar
2. Karakteristik Kondensator
Karakteristik kondensator
|
|||||||||
Tipe
|
Jangkauan
|
Toleransi (%)
|
Tegangan AC lazim (V)
|
Tegangan DC lazim (V)
|
Koefisien
suhu
(ppm/C)
|
Stabilitas
|
|||
10 nF - 10 uF
|
± 10%
|
500 V
|
600 V
|
300 ppm/C
|
0,1 MHz
|
0,01
|
109
|
lumayan
|
|
5 pF - 10 nF
|
± 0,5%
|
-
|
400 V
|
100 ppm/C
|
10 MHz
|
0,0005
|
1011
|
Baik sekali
|
|
5 pF - 1 uF
|
± 10%
|
250 V
|
400 V
|
30 ppm/C
|
10 MHz
|
0,01
|
108
|
Baik
|
|
50 pF - 500 nF
|
± 1%
|
150 V
|
500 V
|
-150 ppm/C
|
10 MHz
|
0,0005
|
1012
|
Baik sekali
|
|
100 pF - 2 uF
|
± 5%
|
400 V
|
400 V
|
400 ppm/C
|
1 MHz
|
0,001
|
1011
|
Cukup
|
|
1 nF - 100 uF
|
± 5%
|
600 V
|
900 V
|
170 ppm/C
|
1 MHz
|
0,0005
|
1010
|
Cukup
|
|
1 uF - 1 F
|
± 50%
|
Terpolarisasi
|
400 V
|
1500 ppm/C
|
0,05 MHz
|
0,05
|
108
|
Cukup
|
|
1 uF - 2000 uF
|
± 10%
|
Terpolarisasi
|
60 V
|
500 ppm/C
|
0,1 MHz
|
0,005
|
108
|
Baik
|
3. Jenis Kondensator
Berdasarkan kegunaannya kondensator dibagi dalam:
Kondensator tetap ialah suatu kondensator yang nilainya konstan dan
tidak berubah-ubah (nilai kapasitasnya tetap tidak dapat diubah). Kondensator tetap ada tiga macam
bentuk :
1.
Kondensator Keramik (Ceramic Capacitor)
Bentuknya ada yang bulat tipis, ada yang persegi empat
berwarna merah, hijau, coklat dan lain-lain. Dalam pemasangan di papan
rangkaian (PCB), boleh dibolak-balik karena tidak mempunyai kaki positif dan
negatif. Mempunyai kapasitas mulai dari beberapa piko Farad sampai dengan
ratusan Kilopiko Farad (KpF). Dengan tegangan kerja maksimal 25 volt sampai 100
volt, tetapi ada juga yang sampai ribuan volt.
2.
Kondensator Polyester
Pada dasarnya sama saja dengan kondensator keramik begitu
juga cara menghitung nilainya. Bentuknya persegi empat seperti permen. Biasanya
mempunyai warna merah, hijau, coklat dan sebagainya.
3.
Kondensator Kertas
Kondensator kertas ini sering disebut juga kondensator padder. Misal
pada radio dipasang seri dari spul osilator ke variabel condensator. Nilai
kapasitas yang dipakai pada sirkuit oscilator antara lain:
Kapasitas 200 pF - 500 pF untuk daerah gelombang menengah (Medium Wave /
MW) = 190 meter - 500 meter.
Kapasitas 1.000 pF - 2.200 pF untuk daerah gelombang pendek (Short Wave
/ SW) SW 1 = 40 meter - 130 meter.
Kapasitas 2.700 pF - 6.800 pF untuk daerah gelombang SW 1, 2, 3 dan 4, =
13 meter - 49 meter.
Kondensator elektrolit
atau Electrolytic Condenser (Elco) adalah kondensator yang biasanya
berbentuk tabung, mempunyai dua kutub kaki berpolaritas positif dan negatif,
ditandai oleh kaki yang panjang positif sedangkan yang pendek negatif atau yang
dekat tanda minus ( - ) adalah kaki negatif. Nilai kapasitasnya dari 0,47 μF
(mikroFarad) sampai ribuan mikroFarad dengan voltase kerja dari beberapa volt
hingga ribuan volt.
Selain
kondensator elektrolit (Elco) yang mempunyai polaritas, ada juga kondensator
jenis elco yang berpolaritas yaitu kondensator
solid tantalum.dan ada Elco yang Non
Polaritas pada kakinya tidak ada kutub (+) dan (-).
Kerusakan umum pada kondensator
elektrolit di antaranya adalah :
1.
Kering
(kapasitasnya berubah)
2.
Konsleting
3.
Meledak,
yang dikarenakan salah dalam pemberian tegangan positif dan negatifnya, jika
batas maksimum voltase dilampaui juga bisa meledak
Kondensator
variabel dan trimmer adalah jenis kondensator yang kapasitasnya bisa
diubah-ubah. Kondensator ini dapat berubah kapasitasnya karena secara fisik
mempunyai poros yang dapat diputar dengan menggunakan obeng.
Kondensator variabel (Varco)
terbuat dari logam, mempunyai kapasitas maksimum sekitar 100 pF
(pikoFarad) sampai 500 pF (100pF = 0.0001μF). Kondensator variabel dengan
spul antena dan spul osilator berfungsi sebagai pemilih gelombang
frekuensi tertentu yang akan ditangkap. Sedangkan kondensator trimer dipasang paralel dengan variabel kondensator
berfungsi untuk menepatkan pemilihan gelombang frekuensi tersebut.Kondensator
trimer mempunyai kapasitas dibawah 100 pF (pikoFarad).
C.
Teori Dioda dan Jenis-Jenisnya
1
Pengertian
Dioda adalah piranti elektronik yang hanya dapat
melewatkan arus dalam satu arah saja. Karena itu, dioda dapat dimanfaatkan
sebagai penyearah arus listrik, yaitu piranti elektronik yang mengubah arus
atau tegangan bolak-balik (AC) menjadi arus tegangan searah (DC).
2
Prinsip Kerja
Dioda terbentuk dari bahan semikonduktor tipe P dan N
yang digabungkan, dengan demikian dioda sering disebut PN junction. Dioda
adalah gabungan bahan semikonduktor tipe N yang merupakan bahan dengan
kelebihan elektron dan tipe P adalah kekurangan satu elektron sehingga
membentuk Hole. Hole dalam hal ini berfungsi sebagai pembawa muatan. Apabila
kutub P pada dioda (biasa disebut anode) dihubungkan dengan kutub positif
sumber maka akan terjadi pengaliran arus listrik dimana elektron bebas pada
sisi N (katode) akan berpindah mengisi hole sehingga terjadi pengaliran arus.
Sebaliknya apabila sisi P dihubungkan dengan negatif
baterai / sumber, maka elektron akan berpindah ke arah terminal positif sumber.
Didalam dioda tidak akan terjadi perpindahan elektron.
3
Jenis-jenis Dioda
Pada dasarnya setiap dioda memiliki karakteristik yang
sama tetapi ada beberapa dioda yang memiliki keistimewaan khusus, diantaranya :
a.
Dioda
hubungan
Dioda yang dapat menghantarkan arus dan tegangan yang
besar pada satu arah saja. Contoh : IN4001, IN4002
b. Dioda kontak titik
Dioda ini berfungsi untuk mengubah frekuensi
tinggi ke frekuensi rendah. Contoh : IN60, OA70
c. Dioda Zener
Dioda zener adalah tipe dioda yang spesial, dimana arus
dapat mengalir pada arah kebalikan. Dioda zener sebenarnya sama seperti dioda
biasa dapat mengalirkan arus pada arah bias maju. Jika di bias terbalik juga
bekerja seperti biasa, kecuali bila mencapai tegangan yang bekerja pada zener /
breakdown voltage, dioda zener akan mengalirkan arus listrik dalam arah bias
terbalik atau mundur. Dioda menolak aliran arus pada arah kebalikan selama
tegangan balik (reversing voltage) tetap rendah. Tetapi jika tegangan mendekati
batas breakdown, dioda zener akan dialiri arus pada arah kebalikan. Dengan kata
lain tahanan dioda zener breakdown mendekati nol dan arus balik (reverse current)
dapat mengalir.
Apabila arah arus ke depan, dioda zener memiliki
karakteristik yang sama dengan dioda-dioda secara umum, tetapi karakteristik
lainnya adalah arus akan mengalir ke dioda zener secara tiba-tiba dari satu
tegangan balik tertentu apabila tegangan digunakan pada arah berlawanan.
Tegangan kerja pada saat itu disebut dengan tegangan breakdown yang besarnya
antara beberapa volt sampai beberapa ratus volt. Aplikasi dioda zener pada
otomotif adalah pada sistem pengisian elektronika dan beberapa komponen-komponen
elektronik lainnya. Ukuran dioda zener yang banyak dijumpai di pasaran adalah :
·
Tegangan
Zener : dibuat dalam berbagai ukuran tegangan, misal 3.3, 4.7, 5.1, 6.2, 6.8,
9.1, 10, 11, 12, 13, 15 sampai 200 volt
·
Untuk
ukuran daya lebih banyak dibutuhkan dalam arah/bias mundur contoh : P=
1.0,7=0,7 W, bias maju arus 1 A. P= 1.10=10 watt, bias mundur 1 A
d.
Light
Emiting Dioda (LED)
LED merupakan jenis dioda yang mampu menghasilkan cahaya
apabila pada dioda tersebut bekerja tegangan 1.8V dan arus listrik 1.5mA dengan
arah forward bias / bias arus maju. Arus listrik juga akan bekerja hanya pada
arus bias maju. LED didesign dengan rumah atau case dari bahan epoxy
trasnparan. Warna cahaya yang dihasilkan dapat dibuat sesuai dengan dopping
bahan pada LED.
e. Dioda Foto
Jika
semi konduktor menyerap cahaya, maka dapat tercipta pasangan elektron
bebas-lubang yang melebihi jumlah yang telah ada dalam semi konduktor itu
akibat kegiatan termal. Gejala ini disebut penyerapan foto (foto absorption).
Meningkatnya konduktifitas listrik akibat kelebihan muatan pembawa oleh
penyerapan foto disebut konduktifitas foto (foto konduktivitas). Jika bungkus
semi konduktor diberi “jendela” transparan (tembus cahaya) maka konduktifitas
listrik semi konduktor tergantung pada intensitas cahaya yang jatuh padanya.
Inilah prinsip kerja sebuah dioda foto.
D.
Teori Induktor dan Jenis-Jenisnya
Induktor adalah komponen yang tersusun dari lilitan kawat. Induktor
termasuk juga komponen yang dapat menyimpan muatan listrik. Bersama kapasitor
induktor dapat berfungsi sebagai rangkaian resonator yang dapat beresonansi
pada frekuensi tertentu.
Fungsi pokok induktor adalah
untuk menimbulkan medan maknet. Induktor berupa kawat yang digulung sehingga
menjadi kumparan kemampuan induktor untuk menimbulkan medan magnet disebut
konduktansi. Satuan induktansi adalah henry
(H) atau milihenry (mH). Metode untuk memperbesar induktansi, yaitu
dengan didalam kumparan disisipkan bahan sebagai inti. Induktor yang berinti
dari bahan besi disebut elektromagnet. Induktor memiliki sifat menahan arus AC
dan konduktif terhadap arus DC.
1.
Jenis-Jenis Induktor
a.
Fixed coil, yaitu
induktor yang memiliki harga yang sudah pasti. Biasanya dinyatakan dalam kode
warna seperti yang diterapkan pada resistor. Harganya dinyatakan dalam satuan
mikrohenry (μH)
b.
Variable coil, yaitu
induktor yang harganya dapat diubah-ubah atau disetel. Contohnya adalah coil
yang digunakan dalam radio
c.
Choke coil (kumparan
redam), yaitu coil yang digunakan dalam teknik sinyal frekuensi tinggi
2.
Kontruksi Induktor
Induktor dikonstruksi sebagai sebuah lilitan dari bahan penghantar,
biasanya kawat tembaga, digulung pada inti magnet berupa udara atau bahan
feromagnetik. Bahan inti yang mempunyai permeabilitas magnet yang lebih tinggi
dari udara meningkatkan medan magnet dan menjaganya tetap dekat pada induktor,
sehingga meningkatkan induktansi induktor. Induktor frekuensi rendah dibuat
dengan menggunakan baja laminasi untuk menekan arus eddy. Ferit lunak biasanya
digunakan sebagai inti pada induktor frekuensi tinggi, dikarenakan ferit tidak
menyebabkan kerugian daya pada frekuensi tinggi seperti pada inti besi. Ini
dikarenakan ferit mempunyai lengkung histeresis yang sempit dan resistivitasnya
yang tinggi mencegah arus eddy. Induktor dibuat dengan berbagai bentuk.
Sebagian besar dikonstruksi dengan menggulung kawat tembaga email disekitar
bahan inti dengan kaki-kaki kawat terlukis keluar. Beberapa jenis menutup penuh
gulungan kawat didalam material inti, dinamakan induktor terselubungi. Beberapa
induktor mempunyai inti yang dapat diubah letaknya, yang memungkinkan
pengubahan induktansi. Induktor yang digunakan untuk menahan frekuensi sangat
tinggi biasanya dibuat dengan melilitkan tabung atau manik-manik ferit pada
kabel transmisi.
Induktor kecil dapat dicetak langsung pada papan rangkaian cetak dengan
membuat jalur tembaga berbentuk spiral. Beberapa induktor dapat dibentuk pada
rangkaian terintegrasi menhan menggunakan inti planar. Tetapi bentuknya yang
kecil membatasi induktansi. Dan girator dapat menjadi pilihan alternatif.
3.
Jenis-Jenis Lilitan
a. Lilitan ferit sarang madu
Lilitan sarang madu
dililit dengan cara bersilangan untuk mengurangi efek kapasitansi
terdistribusi. Lilitan ini sering digunakan pada rangkaian tala pada penerima
radio dalam jangkah gelombang menengah dan gelombang panjang. Karena
konstruksinya, induktansi tinggi dapat dicapai dengan bentuk yang kecil.
b. Lilitan inti toroid
Lilitan toroid dapat
dibuat dari lilitan silinder dengan menghubungkannya menjadi berbentuk donat,
sehingga menyatukan kutub utara dan selatan. Pada lilitan toroid, medan magnet
ditahan pada lilitan. Ini menyebabkan lebih sedikit radiasi magnetik dari
lilitan, dan kekebalan dari medan magnet eksternal.
E.
Teori Transistor dan Jenis-Jenisnya
1.
Pengertian
Transistor adalah
komponen terpenting yang ada dalam dunia elektronika. Secara garis besar ada 2
macam transistor yaitu : BJT (Bipolar Junction Transistor) dan FET (Field
Effect Transistor). Transistor BJT mempunyai tiga kaki utama yaitu : Emiter
(E), colector (C) dan base (B).
Dari transistor
dapat dibuat rangkaian penguat atau amplifier. Penguatan dapat diambil dengan
berbagai cara dengan menggunakan transistor. Transistor bipolar biasanya
digunakan sebagai saklar elektronik dan penguat pada rangkaian elektronika
digital. Transistor memiliki 3 terminal dan biasanya dibuat dari bahan silikon
atau germanium. Kaki transistor ini dapat dikombinasikan menjadi jenis N-P-N
atau P-N-P. Transistor memiliki dua sambungan, yaitu antara emitter dan basis
dan antara kolektor dan basis. Karena itu, sebuah transistor seperti dua buah
dioda yang saling bertolak belakang yaitu dioda emitter - basis, atau disingkat
dengan emitter dioda dan dioda kolektor - basis, atau disingkat dengan dioda
kolektor. Berikut ini merupakan gambar dan simbol dari transistor, baik NPN
maupun PNP.
Pada rangkaian elektronik, sinyal inputnya adalah 1 atau
0 ini selalu dipakai pada basis transistor, yang mana collector dan emittor
sebagai penghubung untuk pemutus ( short ) atau sebagai pembuka rangkaian.
Aturan / prosedur transistor sebagai berikut:
Ø
ada
transistor NPN, pemberian tegangan positif dari basis ke emittor, menyebabkan
hubungan collector ke emittor terhubung singkat, yang menyebabkan transistor
aktif ( ON ). Pemberian tegangan negatif atau 0 V dari basis ke emittor
menyebabkan hubungan collector dan emittor terbuka, yang disebut transistor
mati ( OFF ).
Ø
Pada
transistor PNP, pemberian tegangan negatif dari basis ke emittor ini akan
menyalakan transistor ( ON ). Dan pemberian tegangan positif dari basis ke emittor
ini akan membuat transistor mati ( OFF ).
2.
Karakteristik Input Transistor
Bagian
emittor-basis dari transistor merupakan dioda, maka apabila dioda emittor-basis
dibias maju maka kita mengharapkan akan melihat grafik arus terhadap tegangan
dioda biasa. Saat tegangan dioda emittor-basis lebih kecil dari potensial
barriernya, maka arus basis (Ib) akan kecil. Ketika tegangan dioda
melebihi potensial barriernya, arus basis (Ib) akan naik secara
cepat.
3.
Karakteristik Output Transistor
Sebuah transistor
memiliki empat daerah operasi yang berbeda yaitu daerah aktif, daerah saturasi,
daerah cutoff, dan daerah breakdown. Jika transistor digunakan sebagai penguat,
transistor bekerja pada daerah aktif. Jika transistor digunakan pada rangkaian
digital, transistor biasanya beroperasi pada daerah saturasi dan cutoff. Daerah
breakdown biasanya dihindari karena resiko transistor menjadi hancur terlalu
besar.
F.
Teori IC dan Jenis-Jenisnya
1.
Pengertian
Integrated Circuit (IC) adalah suatu komponen
elektronik yang dibuat dari bahan semi conductor, dimana IC merupakan gabungan
dari beberapa komponen seperti Resistor, Kapasitor, Dioda dan Transistor yang
telah terintegrasi menjadi sebuah rangkaian berbentuk chip kecil, IC digunakan
untuk beberapa keperluan pembuatan peralatan elektronik agar mudah dirangkai
menjadi peralatan yang berukuran relatif kecil.
IC telah
digunakan secara luas diberbagai bidang, salah satunya dibidang industri
Dirgantara, dimana rangkaian kontrol elektroniknya akan semakin ringkas dan
kecil sehingga dapat mengurangi berat Satelit, Misil dan jenis-jenis pesawat
ruang angkasa lainnya. Desain komputer yang sangat kompleks dapat dipermudah,
sehingga banyaknya komponen dapat dikurangi dan ukuran motherboardnya dapat
diperkecil. Contoh lain misalnya IC digunakan di dalam mesin penghitung
elektronik(kalkulator), juga telepon seluler(ponsel) yang bentuknya relatif
kecil.
Di era
teknologi canggih saat ini, peralatan elektronik dituntut agar mempunyai ukuran
dan beratnya seringan dan sekecil mungkin, dan hal itu dapat dimungkinkan
dengan penggunaannya IC.
Selain ukuran
dan berat IC yang kecil dan ringan, IC juga memberikan keuntungan lain yaitu
bila dibandingkan dengan sirkit-sirkit keonvensional yang banyak menggunakan
komponen, IC dengan sirkit yang relatif kecil hanya mengkonsumsi sedikit sumber
tenaga dan tidak menimbulkan panas berlebih sehingga tidak membutuhkan
pendinginan (cooling system).
Pada uraian
sebelumnya nampak seolah-olah IC begitu sempurna dibanding komponen elektronik
konvensional, padalah tak ada sesuatu komponen yang tidak memiliki kelemahan.
Kelemahan IC
antara lain adalah keterbatasannya di dalam menghadapi kelebihan arus listrik
yang besar, dimana arus listrik berlebihan dapat menimbulkan panas di dalam
komponen, sehingga komponen yang kecil seperti IC akan mudah rusak jika timbul
panas yang berlebihan.
Keterbatasan IC
dalam menghadapi tegangan yang besar, dimana tegangan yang besar dapat merusak
lapisan isolator antar komponen di dalam IC Contoh kerusakan misalnya, terjadi
hubungan singkat antara komponen satu dengan lainnya di dalam IC, bila hal ini
terjadi, maka IC dapat rusak dan menjadi tidak berguna.
Ditinjau dari
teknik pembuatan dan bahan baku yang digunakan, terdapat 4 (empat) jenis IC,
yaitu : Jenis Monolithic, Thin film, dan Hybrid. Khusus untuk jenis hybrid,
yang merupakan gabungan dari thin-film, monolithic dan thick-film.
Terlepas dari
teknik pembuatan dan bahan yang digunakan, keempat jenis IC tersebut dibalut
dalam kemasan (packages) tertentu agar dapat terlindungi dari gangguan luar,
seperti terhadap kelembaban, debu, dan kontaminasi zat lainnya.
Kemasan IC
dibuat dari bahan ceramic dan plastik, serta didesain untuk mudah dalam
pemasangan dan penyambungannya. Ada berbagai jenis kemasan IC dan yang paling
populer dan umum digunakan, antara lain :
-DIP(Duel in- line Packages)
-SIP(Single in-line Packages) -QIP(Quad in-line Packages) -SOP(Small Outline
Packages) -Flat Packs -TO-5, TO-72,TO-202 dan TO-220 style Packages
IC yang paling
banyak digunakan secara luas saat ini adalah IC digital yang dipergunakan untuk
peralatan komputer, kalkulator dan system kontrol elektronik. IC digital
bekerja dengan dasar pengoperasian bilangan Biner Logic (bilangan dasar 2)
yaitu hanya mengenal dua kondisi saja 1(on) dan 0(off).
Jenis IC
digital terdapat 2 (dua) jenis yaitu TTL dan CMOS. Jenis IC-TTL dibangun dengan
menggunakan transistor sebagai komponen utamanya dan fungsinya dipergunakan
untuk berbagai variasi Logic, sehingga dinamakan Transistor.
a.
Transistor Logic
Kemasan IC
terdapat beberapa macam gate (gerbang) didalamnya yang dapat melakukan berbagai
macam fungsi logic seperti AND, NAND, OR, NOR, XOR serta beberapa fungsi logic
lainnya seperti Decoder, Encoder, Multiflexer dan Memory sehingga pin (kaki) IC
jumlahnya banyak dan bervariasi ada yang 8,14,16,24 dan 40.
Pada gambar
diperlihatkan IC dengan gerbang NAND yang mengeluarkan output 0 atau 1
tergantung kondisi kedua inputnya.
IC TTL dapat
bekerja dengan diberi tegangan 5 Volt.
6.
IC- CMOS
C-MOS
(Complementary with MOSFET) berisi rangkaian yang merupakan gabungan dari
beberap komponen MOSFET untuk membentuk gate-gate dengan fungsi logic seperti
halnya IC-TTL. Satu kemasan IC C-MOS dapat berisi beberapa macam gate (gerbang)
yang dapat melakukan berbagai macam fungsi logic seperti AND, NAND, OR, NOR,
XOR serta beberapa fungsi logic lainnya seperti Decoders, Encoders, Multiflexer
dan Memory.
Pada gambar
diperlihatkan IC dengan gerbang NOR yang mengeluarkan output 0 atau 1
tergantung kondisi kedua inputnya.
IC C-MOS dapat
bekerja dengan tegangan 12 Volt.
Perbedaan utama
dari IC Linear dengan Digital ialah fungsinya, dimana IC digital beroperasi
dengan menggunakan sinyal kotak (square) yang hanya ada dua kondisi yaitu 0
atau 1 dan berfungsi sebagai switch/saklar, sedangkan IC linear pada umumnya
menggunakan sinyal sinusoida dan berfungsi sebagai amplifier (penguat). IC
linear tidak melakukan fungsi logic seperti halnya IC-TTL maupun C-MOS dan yang
paling populer IC linier didesain untuik dikerjakan sebagai penguat tegangan.
Dalam kemasan
IC linier terdapat rangkaian linier, dimana kerja rangkaiannya akan bersifat
proporsional atau akan mengeluarkan output yang sebanding dengan inputnya.
Salah satu contoh IC linear adalah jenis Op-Amp.
BAB III
METODE PENULISAN
Metode Pengumpulan Data dan atau Informasi
Makalah ini dikerjakan melalui metode :
1.
Studi
Pustaka
a.
Internet
b.
Buku
c.
Jurnal-jurnal
PEMBAHASAN
A. Cara Membaca Nilai Resistor dengan Kode Warna
1.
Menghitung
Secara Manual
Menghitung nilai resistor
secara manual bisa dilihat pada warna gelang yang melingkupinya, biasanya 4
gelang, 5 gelang dan 6 gelang. Untuk mengetahui kode warna pada resistor yaitu
dengan memanfaatkan tabel kode warna resistor.
|

2.
Menghitung
dengan Multimeter
Berikut langkah-langkah mengukur nilai resistor dengan menggunakan
multimeter:
a.
Menggunakan
multimeter digital
1)
Arahkan
saklar pemilih menuju kesimbol resistor
2)
Sambungkan
ujung kabel multimeter ke kaki-kaki resistor
3)
Lihat panel
layar display, akan terlihat besarnya nilai dari tahanan yang diukur.
a.
Menggunakan
multimeter analog
1)
Arahkan
saklar keposisi W, untuk:
x1 dimasudkan hasil yang dihasilkan jarum dikalikan 1W
x10 dimaksudkan hasil yang dihasilkan jarum dikali 10W
x100 dimaksudkan hasil yang dihasilkan jarum dikali 100W
x1k dimaksudkan hasil yang dihasilkan jarum dikali 1000W
x10k dimaksudkan hasil yang dihasilkan jarum dikali 10.000W.
2)
Hubungkan
kabel multimeter kekaki resistor
3)
Lihat jarum
yang dihasilkan, kemudian kalikan hasil tersebut dengan faktor pengali (x1,
x10, x100, x1k, x10k).
b.
Mengukur
variabel resistor menggunakan multimeter
1)
Atur saklar
jangkauan ukur pada posisi W
2)
Batas ukur (range) pada posisi x1, x10, x100 atau kW tergantung
dari nilai resisitor variabel yang akan diukur
3)
Ujung dari
kedua kabel penyidik dipertemukan
4)
Menggunakan
tombol pengatur posisi jarum pada angka nol (zero adjustment), atur posisi jarum pada papan skala hingga
menunjukkan angka nol
5)
Letakkan
kedua ujung kabel penyidik pada terminal a dan b dari variabel resisitor
6)
Putar tuas
searah jarum jam (untuk preset
gunakan obeng minus)
7)
Jarum pada
papan skala akan ikut bergerak ke kanan, artinya variabel resistor masih baik
dan dapat digunakan
8)
Letakkan
kedua ujung kabel penyidik pada terminal b dan c dari variabel resistor
9)
Putar tuas
searah jarum jam
10)
Jarum pada
papan skala ikut bergerak ke kiri, artinya variabel resistor masih baik dan
dapat digunakan.
c.
Mengukur
resistor peka cahaya/Light Dependent
Resistor (LDR)
1)
Atur saklar
pada posisi W
2)
Batas ukur (range) pada posisi x1, x10, x100 atau kW sesuai
kebutuhan
3)
Ujung dari
kedua kabel penyidik dipertemukan
4)
Menggunakan
tombol pengatur posisi jarum pada angka nol (zero adjustment), atur posisi jarum pada papan skala hingga
menunjukkan angka nol
5)
Letakkan kedua ujung kabel penyidik secara
acak pada kedua kaki LDR
6)
Menggunakan
lampu senter (flashlight) sinari
permukaan LDR, jarum akan bergerak ke kanan. Menunjukkan nilai satuan ohm yang
kecil, artinya LDR masih baik dan dapat digunakan
7)
Tutuplah
permukaan LDR, jarum pada papan skala bergerak ke kiri, artinya LDR masih dapat
digunakan
(catatan: ditempat gelap, nilai
satuan ohm dari LDR= 1MW. Ditempat
terang, nilai satuan ohm dari LDR = 100W)
d.
Mengukur
thermistor
1)
Atur saklar
pada posisi W
2)
Batas ukur (range) pada posisi x1, x10, x100 atau kW sesuai
kebutuhan
3)
Ujung dari
kedua kabel penyidik dipertemukan
4)
Menggunakan
tombol pengatur posisi jarum pada angka nol (zero adjustment), atur posisi jarum pada papan skala hingga
menunjukkan angka nol
5)
Letakkan
kedua ujung kabel penyidik secara acak pada kedua kaki thermistor (NTCR atau
PTCR)
6)
Pada
pengukuran NTCR, dengan menggunakan korek api. Panasi NTCR, jarum pada papan
skala menunjukkan nilai satuan ohm yang kecil, artinya NTCR masih baik dan
dapat digunakan
7)
Pada
pengukuran PTCR, dengan menggunakan korek api. Panasi PTCR, jarum pada papan
skala menunjukkan nilai satuan ohm yang besar, artinya NTCR masih baik dan
dapat digunakan
B.
Cara
Membaca Nilai Kondensator dengan Kode Warna
1.
Menghitung
Secara Manual
Secara umum nilai kondensator
sudah tertera pada selubung pembungkusnya. Contohnya, jika pada badan
kondensator tertera 350/450, karakteristik dari kondensator tersebut mempunyai
tegngan kerja maksimum sebesar 350 volt, dan telah diuji (pabrik) pada tegangan
450 volt.
Selain itu, nilai kapasitas
sebuah kondensator biasanya terlihat pada kode tulisan dan kode warnanya.
Kondensator dengan kode warna mempunyai kapasitas kecil dan biasanya terbuat
dari polyester.
Tabel warna kondensator elektrolit tantalum
Warna
|
Kode A
|
Kode B
(faktor kali) |
Kode C
(toleransi) |
Kode D
(tegangan) |
Hitam
|
0
|
x1
|
±20%
|
|
Coklat
|
1
|
x101
|
-
|
100 volt
|
Merah
|
2
|
x102
|
-
|
250 volt
|
Jingga
|
3
|
x103
|
-
|
250 volt
|
Kuning
|
4
|
x104
|
-
|
400 volt
|
Hijau
|
5
|
x105
|
-
|
400 volt
|
Biru
|
6
|
-
|
-
|
630 volt
|
Ungu
|
7
|
-
|
-
|
630 volt
|
Abu-abu
|
8
|
-
|
-
|
630 volt
|
Putih
|
9
|
-
|
±10%
|
630 volt
|
Selain pengkodean diatas, ada
juga pengkodean seperti pada gambar dibawah ini yang merupakan gambar dari
kondensator elektrolit tantalum. Dari gambar tersebut dijelaskan bahwa kode A
sampai kode C merupakan nilai kapasitas kondensator dalam satuan rF, sedangkan kode D merupakan besarnya tegangan kerja kondensator.
·
Pembacaan
nilai kondensator:
Pada Kapasitor angka yang tertulis di badannya
merupakan nilai kapasitansi kapasitor tersebut. Apabila pada badannya tertulis
satu / dua angka maka bisa kita langsung baca kapasitasnya dengan satuan pF
(pico farad).

Contoh, kapasitor keramik diatas tertuliskan dua angka
68, maka kapasitansi kapasitor tersebut adalah 68 pF. Sedangkan jika ada 3
angka, maka angka pertama dan kedua adalah nilai nominal, sedangkan angka ketiga
adalah faktor pengali.

Pada gambar diatas tertulis angka 104 berarti angka
pertama dan kedua menunjukkan nilai yaitu 10 dan angka ketiga angka 4 yang
berarti faktor pengali = 10000, nilai kapasitor keramik tersebut adalah 10
×10000=100000pF = 100 nF = 0,1 uF , berikut tabel pengali nilai kapasitor :

atau lebih mudahnya lihat gambar berikut :

Angka pertama dan
kedua nilai nominal sedangkan angka ketiga banyaknya angka nol. Sehingga nilai
capasitor diatas adalah 10000 pF = 10 nF = 0,01 uF.
Untuk kapasitor polyester nilai kapasitansinya
bisa diketahui berdasarkan warna seperti pada resistor.


Contoh : Pada
sebuah kapasitor pada badannya berwarna Coklat, Hitam, Orange. maka nilai
kapasitansi (lihat tabel) condensator tersebut adalah : 103 = 10 x 1000 = 10000
pF = 10nF = 0,01 uF.
Seperti komponen lainnya, besar kapasitansi nominal
kondensator ada toleransinya. Nilai toleransi Kondensator ditentukan dengan
kode-kode angka atau huruf tertentu. Dengan tabel di bawah pemakai dapat dengan
mudah mengetahui toleransi kapasitor yang biasanya tertera menyertai nilai
nominal kapasitor. Misalnya jika tertulis 104 X7R, maka kapasitansinya adalah
100nF dengan toleransi +/-15%. Sekaligus diketahui juga bahwa suhu kerja yang
direkomendasikan adalah antara -55Co sampai +125C.
Tabelnya sebagai berikut :
Tabelnya sebagai berikut :

Tabel Karakteristik
Kondensator

Tabel Karakteristik Toleransi Kapasitor
Dari tabel diatas
kita bisa tahu, karakteristik kapasitor selain kapasitansi juga tak kalah
pentingnya yaitu tegangan kerja dan temperatur kerja. Tegangan kerja adalah
tegangan maksimum yang diijinkan sehingga kapasitor masih dapat bekerja dengan
baik. Misalnya kapasitor 10uF25V, maka tegangan yang bisa diberikan tidak boleh
melebihi 25 volt dc. Umumnya kapasitor-kapasitor polar bekerja pada tegangan DC
dan kapasitor non-polar bekerja pada tegangan AC. Sedangkan temperatur kerja
yaitu batasan temperatur dimana kapasitor masih bisa bekerja dengan optimal.
Misalnya jika pada kapasitor tertulis X7R, maka kapasitor tersebut mempunyai suhu
kerja yang direkomendasikan antara -55Co sampai +125Co. Biasanya spesifikasi
karakteristik ini disajikan oleh pabrik pembuat.
Satuan dalam kondensator
disebut Farad. Satu farad = 9 x 1011 cm2 yang artinya
luas permukaan kepingan tersebut menjadi 1 farad sama dengan 106
mikrofarad (mF), jadi 1mF
= 9 x 105 cm2. Berikut satuan yang sering digunakan:
a)
1 farad =
1.000.000 mF (mikro farad)
b)
1 mF = 1.000.000 rF (piko
farad)
c)
1 mF = 1.000 hF (nano
farad)
d)
1 hF = 1.000 rF (piko
farad)
e)
1 rF = 1.000 mmF (mikro-mikro farad)
·
Pembacaan
nilai kondensator diuraikan sebagai berikut:
a.
Kondensator
keramik
1)
Jika pada
badannya tertulis = 103, nilai kapasitasnya 10.000 rF
2)
Jika pada
badannya tertulis = 302, nilai kapasitasnya 3.000 rF
b.
Kondensator
polyester
Pada dasarnya sama dengan kondensator keramik, begitu juga dengan
menghitung nilainya
c.
Kondensator
kertas
1)
Kapasitas
200 rF – 500 rF untuk daerah gelombang menengah (Medium
Wave/MW) = 190 – 500 meter
2)
Kapasitas
1.000 rF – 2.200 rF untuk daerah gelombang pendek (Short
Wave/SW) SW 1 = 40 – 130 meter
3)
Kapasitas
2.700 rF – 6.800 rF untuk daerah gelombang SW 1, 2, 3 dan 4 = 13 – 49 meter.
2.
Menghitung
dengan Multimeter
Tujuan utama mengukur
kondensator elektrolit atau elco adalah untuk mengetahui keadaan kondensator
tersebut apakah bocor atau tidak. Berikut langkah-langkah mengukur nilai
kondensator dengan menggunakan multimeter.
a.
Arahkan
saklar ke posisi W (x1, x10, x100 sesuai yang dikehendaki).
b.
Hubungkan
kabel multimeter ke kaki-kaki kondensator (kabel hitam ditempelkan ke kaki yang
posiyif, sedangkan kabel merah ditempelkan ke kaki yang negatif)
c.
Lihat jarum
yang dihasilkan pada papan skala
Jika jarum bergerak ke kanan dan kembali ke kiri, berarti kondensator
baik.
Jika jarum bergerak ke kanan dan kembali ke kiri tetapi tidak penuh (di
tengah), berarti kondensator setengah rusah atau aus
Jika jarum bergerak ke kanan dan berhenti, berarti kondensator bocor
Jika jarum tidak bergerak sama sekali, berarti kondensator mati
C.
Cara
Membaca Nilai Dioda
1.
Dioda
Penyearah
a.
Arahkan
saklar keposisi W (x1, x10, x100 sesuai yang dikehendaki
b.
Hubungkan
kabel multimeter ke kaki-kaki dioda (kabel hitam ditempelkan pada kaki anoda
(-), sedangkan kabel merah ditempelkan pada kaki katoda (+). Jika jarum
bergerak, berarti dioda baik. Jika jarum tidak bergerak, berarti dioda putus
atau rusak
c.
Pindahkan
pencolok kabel hitam ke kaki katoda, sedangkan kabel merah kekaki anoda. Jika
jarum bergerak, berarti dioda tersebut baik. Jika jarum tidak bergerak, maka
dioda tersebut putus atau rusak
d.
Cara diatas
juga dapat digunakan untuk mengetahui mana anoda dan mana katoda dari suatu
dioda jika gelangnya terhapus
e.
Arahkan ke
VDC untuk mengetahui jenis dari bahan dioda. Bila tegangan katoda-anoda 0,2
volt, kemungkinan dari bahan germanium.
Jika tegangan anoda-katoda 0,6 volt kemungkinan dari bahan silikon.
2.
Dioda
Pemancar Cahaya (LED)
a.
Arahkan
saklar keposisi W (x1, x10, x100 sesuai yang dikehendak
b.
Hubungkan kabel multimeter ke kaki-kaki LED
c.
Jika LED
menyala berarti baik. Jika LED tidak menyala, berarti putus atau rusak
d.
Untuk
7-segmen, hubungkan kabel hitam dikaki bagian tengah. Periksa tiap kaki dengan
kabel merah, jiak pengukuran tiap kaki menyala berarti LED baik.
3.
Membaca
Dioda Zener
Jenis nomor kode
yang ditunjukkan pada tubuh dioda zener cukup banyak. Tampilan dan bentuk
sebuah dioda zener keliru sometimescan menjadi sinyal normal dioda. Cara
membedakannya adalah dengan melihat kode number pada tubuh itu-apakah itu
normal atau dioda zener. Satu-satunya cara untuk mengetahuinya adalah dengan
mengacu nomor kode yang tercetak pada komponen tubuh dari sebuah buku data
semikonduktor. Tanpa buku data sangat sulit untuk mengetahui yang sebenarnya
tegangan dioda zener. Cara membaca kode dioda zener adalah sebagai berikut:
a.
5.
1 = 5. Dioda zener 1Volt
b.
5V1
= 5. Dioda zener 1Volt
c.
12
= 12 Volt dioda zener
d.
12V
= 12 Volt dioda zener
BZX85C22
= 22Volt 1 watt dioda zener (lihat EKG PHILIPS PETUNJUK PENGGANTIAN MASTER
semikonduktor)
BZY85C22
= 22Volt 1 / 2 watt dioda zener (lihat EKG PHILIPS PETUNJUK PENGGANTIAN MASTER
semikonduktor)
Catatan:
Ada juga bagian nomor seperti BZVXXXXX di mana Anda harus mencari dari EKG
SEMICONDUCTOR BOOK.
1N4746
= 18 Volt 1 watt dioda zener (lihat EKG PHILIPS PETUNJUK PENGGANTIAN MASTER
semikonduktor)
6C2
= 6. 2 Volt dioda zener. (Jika Anda melihat kode dioda zener ini ditulis
sebagai TOP DARI 6C2 BACAAN UNTUK BOTTOM) Jangan membaca dari bawah ke atas
jika tidak, nilai yang akan didapatkan adalah yang 2C6.
Pemeriksaan nomor bagian dari sebuah dioda zener harus
dicermati. Sebuah dioda yang memiliki sinyal kecil belum tentu merupakan dioda
zener. Pengamatan pada papan utama dan membaca dioda zener nomor bagian mengacu
pada buku semikonduktor, sebaiknya EKG SEMICONDUCTOR DATA BUKU yang dapat
diperoleh dari distributor elektronik.
D. Cara Membaca Nilai Induktor
Untuk mengetahui kondisi putus tidaknya sebuah pengantar insuktor
sebagai berikut:
1.
Atahkan
saklar ke posisi W meter (R x1k)
2.
Hubungkan
kedua pencolok pada masing-masing ujung pengantar
3.
Perhatikan
arah atau pola induktor, pencolok hitam dihubungkan pada ujung pengantar
pertama, sedangkan pencolok merah pada ujung yang lainnya
4.
Jika jarum
bergerak, berarti kondisi induktor baik. Jika jarum tidak bergerak sama sekali,
berarti induktor putus.
Perhitungan nilai inductor
dalam sebuah rangkaian seri dan parallel.
1.
Rangkaian Seri
Rumus untuk menghitung induktor seri
adalah sebagai berikut :
LTotal = L1 + L2 + L3
LTotal = L1 + L2 + L3

Contoh :
RTotal = L1 +
L2 + L3
Rtotal=2ohm + 3ohm + 6ohm = 11ohm
2.
Rangkaian Paralel
Rumus untuk menghitung induktor paralel
adalah sebagai berikut :
1/LTotal = 1/L1 + 1/L2 + 1/L3
LTotal = 1/(1/L1 + 1/L2 + 1/L3
1/LTotal = 1/L1 + 1/L2 + 1/L3
LTotal = 1/(1/L1 + 1/L2 + 1/L3

Contoh:
1/Ltotal = 1/L1 + 1/L2 + 1/L3
= 1/3 + 1/2 + 1/6
= 2/6 + 3/6 + 1/6
= 6/6
Ltotal = 1/(6/6)
= 2/6 + 3/6 + 1/6
= 6/6
Ltotal = 1/(6/6)
= 1/1
= 1 Ohm
3.
Rangkaian Seri Paralel
Rumus Seri(L1 + L2 + L3)+ Rumus Paralel(1/L1 + 1/L2 + 1/L3)
Contoh:
Lt = 1/L1 + 1/L2 + L3
1/Lt1 = 1/56 + 1/33
1/Lt1 = 89/1848
89Lt1 = 1848
Lt1 = 1848/89
Lt1 = 20,8 ohm
E. Cara Membaca Transistor dan Stabilizer
Menghitung nilai transistor, diantaranya sebagai berikut:
1.
Menguji
dan mengukur transistor jenis NPN & PNP
a.
Transistor
jenis NPN
1)
Arahkan
saklar ke posisi W x 100
2)
Hubungkan
kabel multimeter pencolok hitam pada basis dan merah pada kolektor, jarum harus
menyimpang ke kanan. Bila pencolok merah dipindahkan ke emitor, jarum harus ke
kanan lagi. Hubungkan pencolok merah pada basis dan pencolok hitam pada
kolektor, jarum harusnya tidak menyimpang dan jika pencolok hitam dipindahkan
ke emitor, jarum juga harus tidak menyimpang
3)
Arahkan
saklar pada 1k
4)
Hubungkan
pencolok hitam pada kaki kolektor dan merah pada kaki emitor, jarum harus
sedikit menyimpang ke kanan. Jika dibalik, jarum harus tidak meyimpang. Jika
salah satu peristiwa tersebut tidak terjadi, kemungkinan transistor rusak.
b.
Transistor
jenis PNP
1)
Arahkan
saklar ke posisi W x 100
2)
Hubungkan kabel
multimeter pencolok hitam pada basis dan merah pada kolektor, jarum harus
menyimpang ke kanan. Bila pencolok merah dipindahkan ke emitor, jarum harus ke
kanan lagi. Hubungkan pencolok merah pada basis dan pencolok hitam pada
kolektor, jarum harusnya tidak menyimpang dan jika pencolok hitam dipindahkan
ke emitor, jarum juga harus tidak menyimpang
3)
Cara diatas
juga dapat digunakan untuk mengetahui mana kaki basis, kolektor dan emitor
suatu transistor
4)
Arahkan VDC
untuk memperkirakan bahan
transistor.pengujian dapat dilakukan pada kaki basis dan emitor. Jika voltase
yang dihasilkan 0,2 volt, kemungkinan dari bahan germanium. Jika nilai
voltasenya 0,6 volt, kemungkinan dari bahan silicon.
Berikut adalah contoh nilai tahanan (resistance)
dari beberapa transistor dimana “dioda” emitor-basis dan “dioda” kolektor-basis
untuk transistor jenis PNP dan NPN mendapatkan tegangan panjar maju (forward blas).
KODE
|
TIPE
|
DIODA
|
RESISTANCE
|
KONDISI
|
2SA671
|
PNP
|
Emitor-Basis
|
16,5W
|
BAIK
|
Kolektor-Basis
|
16W
|
BAIK
|
||
2SB54
|
PNP
|
Emitor-Basis
|
8W
|
BAIK
|
Kolektor-Basis
|
7W
|
BAIK
|
||
2SA101
|
PNP
|
Emitor-Basis
|
12W
|
BAIK
|
Kolektor-Basis
|
11,5W
|
BAIK
|
||
BC547B
|
NPN
|
Basis-Emitor
|
21W
|
BAIK
|
Basis-Kolektor
|
20W
|
BAIK
|
||
BC108
|
NPN
|
Basis-Emitor
|
22W
|
BAIK
|
Basis-Kolektor
|
21W
|
BAIK
|
||
FCS9014B
|
NPN
|
Basis-Emitor
|
20W
|
BAIK
|
Basis-Kolektor
|
19,5W
|
BAIK
|
2.
Menguji
transistor jenis FET
Cara menguji transistor jenis FET adalah sebagai berikut:
a.
Arahkan
saklar ke posisi W x 100
b.
Hubungkan
kabel multimeter pencolok hitampada source dan merah pada gate. Jika jarum
menyimpang, jenis FET adalah kanal P dan jika tidak, FET adalah kanal N
c.
Arahkan
saklar pada x1k atau x10k, potensio harus minimum dan resistansi harus kecil.
Jika potensio diputar ke kanan, resistansi harus tak terhingga. Jika peristiwa
ini tidak terjad, kemungkinan FET rusak
3.
Menguji
transistor jenis UJT
Cara kerja
UJT seperti switch, jika masih bisa on-off, berarti transistor tersebut masih
baik. Berikut langkah-langkah pengujian transistor UJT.
a.
Arahkan
saklar pada 10 VDC dan potensio pada minimum, tegangan harus kecil
b.
Setelah
potensio diputar, pelan-pelan jarum akan naik sampai posisi tertentu. Jika
jarus diputar pelan-pelan kearah minimum ladi dan pada posisi tertentu, jarum
akan bergerak kekiri. Jika putaran potensio diteruskan sampai minimum, jarum
akan tetap diam. Jika peristiwa tresebut terjadi, berarti komponen UJT tersebut
masih baik
Menghitung
nilai stabilizer
Stabilizer atau Automatic Voltage Regulator – AVR
(Pengatur Otomatis Voltase Listrik) atau lebih sering disebut dengan Stavol,
fungsinya adalah untuk menjaga lonjakan mendadak voltase listrik yang masuk ke
dalam satu / beberapa perangkat elektronik. Secara sederhana, proses kerjanya
adalah menampung sementara daya listrik yang masuk, kemudian menyalurkannya
pada perangkat elektronik hanya sebatas konsumsi daya dan voltase kebutuhan
perangkat tersebut. Secara teori, kualitas
keluaran daya listrik dari unit stabilizer sudah dalam batas aman untuk
dijadikan konsumsi sumber daya perangkat elektronik yang menerima.
Pada dasarnya, setiap unit stabilizer memiliki standar ukuran dan batas
kemampuan sesuai dengan kapasitas fisiknya dalam menerima sumber daya yang
menjadi masukkan dari instalasi listrik terpasang di rumah.
Jika lonjakan voltase listrik yang terjadi cukup tinggi diatas kapasitas
stabilizer, dapat menghasilkan dampak negatif terhadap fisik unit stabilizer
itu sendiri, diantaranya :
1. sikring
stibilizer menjadi putus
2. kumparan tembaga pada unit stabilizer terbakar (hangus)
3. peralatan elektronik yang terhubung pada unit stabilizer menjadi rusak
(biasa terjadi pada stabilizer bermutu rendah)..
kapasitas stabilizer yang
dibutuhkan untuk dipasang di rumah, tentunya berkaitan erat dengan besar
kapasitas instalasi listrik PLN di rumah tersebut. Langkahnya yaitu menambahkan
nilai kapasitas daya listrik di rumah sebesar 25%. Jadi, untuk rumah dengan
instalasi 1300 VA, dibutuhkan stabilizer berkapasitas >=1733 VA.
Satuan daya yang tertera pada
stabilizer, pada umumnya menggunakan satuan VA (Volt Ampere), bukan Watt.
Garis besar pengertian yang
dapat diperoleh dari pembahasan perbedaan kedua satuan daya di artikel tersebut
adalah VA merupakan daya semu. Sedangkan Watt merupakan daya sebenarnya. Untuk
mengkonversi nilai VA ke Watt, diperlukan satu nilai lagi dari satuan yang
dinamakan Faktor Daya. Default / standar nilai Faktor Daya yang biasa ditemukan
pada perangkat elektronik (mis. UPS atau stabilizer) adalah 0,8. Sehingga nilai
daya sebenarnya (Watt) perangkat elektronik berdaya 3000 VA adalah : 3000 x 0,8
= 2400 Watt.
Jika kapasitas stabilizer harus
lebih besar 25% dari instalasi daya sebenarnya yang terpasang di rumah, maka
kapasitas kebutuhan Watt dari stabilizer adalah :
1300 / 0,75 = 1733,33 Watt
Jika di konversi ke dalam satuan VA, akan menjadi :
1733,33 / 0,8 = 2166,67 dibulatkan ke atas : 2167 VA
Jadi kapasitas daya VA
terendah dari stabilizer yang hendak dipasang di rumah berdaya 1300 sebaiknya
2167 VA. Seandainya stabilizer dengan kapasitas tersebut tidak ada, diusahakan
menggantinya dengan kapasitas yang lebih tinggi (>=2500 VA). Tindakan ini
diambil untuk menjaga kemungkinan kapasitas asli unit stabilizer itu sendiri
lebih rendah dari yang tertulis pada kemasannya.
Terdapat kemungkinan bahwa
anjuran untuk menaikkan kapasitas stabilizer lebih besar 25% dari kapasitas
daya listrik terpasang di rumah adalah untuk menambah nilai Faktor Daya sebesar
0,8 yang dimilikinya (stabilizer). Hal ini menjadikan stabilizer memiliki
besaran kapasitas daya sebenarnya (minimal) sama dengan kapasitas daya
sebenarnya dari listrik yang terpasang di rumah. Besaran nilai Faktor Daya
berada pada kisaran 0,8 (terendah) hingga 1 (tertinggi). Namun, nilai
Faktor Daya dapat lebih kecil dari 0,8. Tinggi-rendahnya nilai Faktor Daya akan
mempengaruhi jumlah daya yang dikonsumsi oleh perangkat elektronik. Semakin
kecil nilai Faktor Daya, semakin besar jumlah daya yang dikonsumsi. Beberapa
informasi mengenai UPS yang saya dapatkan, nilai Faktor Daya sebesar 0,7
merupakan nilai cukup ideal bagi sebuah UPS. Dari semua informasi-informasi
tersebut, saya menyimpulkan bahwa terdapat satu area / ruang yang cukup luas
untuk dapat dipahami sepenuhnya mengenai Faktor Daya.
Logika gampangnya adalah jika
kapasitas listrik terpasang di rumah sebesar 1300 VA dengan nilai Faktor Daya
sebesar 1, maka besar daya sebenarnya adalah 1300 Watt. Sehingga untuk
meng-cover-nya, dibutuhkan stabilizer berkapasitas minimal 2167 VA sebagaimana
yang telah dicontohkan sebelumnya. Seandainya kapasitas listrik terpasang
sebesar 1300 VA dengan Faktor Daya sebesar 0,8; maka dibutuhkan stabilizer
berkapasitas VA sedikit lebih besar untuk meng-covernya. Jadi, jika anda merasa
yakin kapasitas listrik terpasang di rumah sebesar 1300 VA memiliki Faktor Daya
sebesar 0,8; cukup menggunakan stabilizer berkapasitas minimal 1733 VA saja.
Ilustrasi dalam pemasangan stabilizer
dalam rumah yaitu memerlukan keluaran daya listrik dari meteran, mengalir masuk
ke MCB dalam rumah. Keluaran daya dari MCB, dialirkan sebagai masukkan daya
untuk stabilizer. Keluaran daya listrik dari stabilizer inilah yang kemudian
disebarkan ke seluruh rumah.
Gambar 1 : Sebelum pemasangan
Stabilizer
Gambar 2 : Setelah Pemasangan
Stabilizer
Stabilizer terbagi atas 4
jenis yang dapat digunakan untuk kebutuhan skala rumah tinggal, yaitu
servo-motor, relay, digital-relay dan ferro-resonant.
F. Cara Membaca Nilai IC
1.
Cara membaca nomor urut kaki IC
Integrated Circuit (IC) yang
berbentuk bulat dan dual in line, kaki-kakinya diberi bernomor urut dengan
urutan sesuai arah jarum jam, kaki nomor SATU selalu diberi tanda titik (bulatan
kecil). Setiap IC ditandai dengan nomor type, nomor type
ini biasanya menunjukkan jenis IC, jadi bila nomornya sama maka IC tersebut
sama fungsinya. Kode lain menunjukkan pabrik pembuatnya, misalnya operational
amplifier type 741 dapat muncul dengan tanda uA741, LM741, MC741, RM741,
SN72741 dan sebagainya.
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
1.
Resistor adalah
suatu komponen elektronik yang memberikan hambatan terhadap perpindahan
elektron negatif
2.
Kondensator ataupun
Kapasitor adalah suatu alat yang dapat menyimpan energi didalam medan listrik,
dengan cara mengumpulkan ketidakseimbangan internal dari muatan listrik
3.
Dioda adalah
komponen elektronik yang memiliki dua elektroda, yaitu anoda dan katoda. Arus
listrik yang mengalir hanya satu arah yaitu dari anoda ke katoda
4.
Transistor adalah
komponen semikonduktor yang dirancang sebagai penguat arus listrik
5.
Induktor merupakan
komponen elektronik pasif yang dapat menghasilkan tegangan listrik berbanding
lurus dengan perubahan sesaat dari arus listrik yang mengalir
6.
Integrated
Circuit (IC) adalah suatu komponen elektronik yang dibuat dari bahan semi
konduktor, dimana IC merupakan gabungan dari beberapa komponen seperti
Resistor, Kapasitor, Dioda dan Transistor yang telah terintegrasi menjadi
sebuah rangkaian berbentuk chip kecil
7.
Pengukuran dengan
manual atas komponen elektronika dapat secara langsung dilihat pada keterangna
di komponennya
8.
Pengukuran dan
pengujian dengan multimeter guna mengetahui keadaan komponen elektronika
tersebut apakah rusak atau masih bisa digunakan
B.
Saran
Agar
proses pembelajaran dapat berjalan dengan baik dan tujuan yang diinginkan akan
tercapai, maka disarankan kepada rekan-rekan mahasiswa yang mendapatkan
pelajaran elektronika khususnya, dapat memahami terlebih dahulu mengenai
komponen-komponen elektronika dan dapat mempraktikan cara menghitung dan
mengukur nilai dari komponen eletronika tersebut.
0 komentar:
Posting Komentar